B50 Sudah Disalurkan ke 6.050 SPBU, Pemerintah Kejar Ketahanan Energi
Penyaluran B50 telah mencapai 6.050 SPBU hingga September 2026. Program ini ditargetkan memperkuat ketahanan energi dan mengurangi impor solar.
Lensakabar.com, Jakarta - Program biodiesel B50 terus diperluas pemerintah sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Hingga September 2026, sebanyak 6.050 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) telah menyalurkan B50 atau sekitar 94 persen dari total 6.412 SPBU yang menjadi sasaran distribusi.
Data tersebut tercantum dalam infografik ANTARA yang mengacu pada data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Pertamina Patra Niaga. Sementara itu, data Kementerian ESDM per 7 September 2026 mencatat penyaluran B50 telah mencapai 3,4 juta kiloliter (kl).
B50 merupakan campuran biodiesel berbasis minyak sawit dengan solar. Pemerintah mendorong penggunaannya untuk meningkatkan pemanfaatan bahan baku energi domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap solar impor. Kementerian ESDM juga menyatakan implementasi B50 mulai berjalan secara nasional sejak 1 Juli 2026.
Penyaluran B50 Capai 6.050 SPBU
Capaian 6.050 SPBU menunjukkan sebagian besar jaringan penyaluran Biosolar telah beralih ke B50. Masih terdapat 362 SPBU yang belum menyalurkan B50 karena masih menghabiskan persediaan B40 sesuai masa transisi yang ditetapkan pemerintah.
Pertamina Patra Niaga sebelumnya menyebut distribusi B50 telah mencapai 94 persen hingga 5 September 2026. Perusahaan menargetkan seluruh SPBU dapat menyalurkan B50 setelah masa transisi berakhir pada akhir September.
Sebaran penyaluran berdasarkan wilayah dalam data yang ditampilkan pada infografik adalah sebagai berikut:
- Sumatera: 1.483 SPBU
- Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat: 966 SPBU
- Jawa Tengah dan DI Yogyakarta: 886 SPBU
- Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara: 1.221 SPBU
- Kalimantan: 577 SPBU
- Sulawesi: 659 SPBU
- Maluku-Papua: 258 SPBU
Angka tersebut memperlihatkan bahwa penyaluran B50 sudah mencakup berbagai wilayah Indonesia, meskipun tingkat implementasinya masih berbeda antarwilayah.
Baca Juga: Mentan Amran Targetkan Hilirisasi Ayam Bone Beroperasi 2027
Sebelumnya, Kementerian ESDM mencatat penyaluran B50 secara nasional masih berada pada kisaran 75-80 persen pada akhir Agustus 2026. Capaian di jaringan Pertamina kemudian meningkat hingga 94 persen pada awal September.
Pemerintah Perkuat Infrastruktur dan Standar B50
Perluasan penyaluran B50 tidak hanya dilakukan melalui penambahan SPBU yang menyediakan bahan bakar tersebut. Pemerintah juga memperkuat kesiapan teknis dan infrastruktur pendukung agar penerapannya dapat berjalan sesuai standar.
Dalam infografik tersebut, pemerintah dan Pertamina disebut menyiapkan tiga langkah dalam penerapan B50. Pertama, menetapkan masa transisi hingga 30 September 2026 untuk menghabiskan B40 yang masih tersedia.
Kedua, spesifikasi mutu diperketat, antara lain melalui penurunan batas kandungan air. Ketiga, kapasitas penyimpanan, kapal, serta mobil tangki untuk penyaluran juga diperkuat.
Langkah teknis tersebut berjalan bersamaan dengan koordinasi pemerintah bersama industri otomotif. Kementerian ESDM menyatakan pengujian dan dialog dengan industri diperlukan untuk memastikan B50 dapat digunakan dengan baik pada kendaraan yang digunakan masyarakat.
B50 Ditargetkan Kurangi Ketergantungan Impor Solar
Pemerintah menempatkan B50 bukan sekadar sebagai perubahan komposisi bahan bakar, tetapi sebagai bagian dari strategi ketahanan energi. Penggunaan biodiesel berbahan baku sawit domestik diarahkan untuk mengurangi kebutuhan terhadap solar dari luar negeri.
Dalam infografik ANTARA, penerapan B50 disebut berpotensi meningkatkan ketahanan energi dengan mengurangi impor solar setara sekitar 310 ribu barel per hari. Program tersebut juga ditargetkan meningkatkan devisa negara hingga Rp170 triliun pada 2026.
Kementerian ESDM sebelumnya menyampaikan bahwa penerapan B50 diproyeksikan menghemat devisa sekitar Rp170 triliun karena berkurangnya kebutuhan impor solar. Pemerintah juga menempatkan program tersebut sebagai instrumen untuk memperkuat kemandirian energi nasional.
Dari sisi lingkungan, infografik mencatat manfaat B50 berupa pengurangan emisi gas rumah kaca sekitar 44,46 juta ton CO2e pada 2026. Program tersebut juga dikaitkan dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 2,1 juta orang pada tahun yang sama.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan pemanfaatan bahan baku domestik menjadi bagian penting dari program tersebut.
“Melalui B50 kita memanfaatkan energi yang berdasarkan bahan baku dari domestik, ini menunjukkan ketahanan dan kemandirian kita.”
Dengan penyaluran yang telah mencapai 6.050 SPBU, fokus pemerintah berikutnya adalah menyelesaikan masa transisi hingga akhir September 2026. Setelah tahap tersebut, distribusi B50 diarahkan untuk menjangkau seluruh jaringan SPBU yang menjadi sasaran penerapan program.
0 Komentar