Lensakabar.com, Bandung - Colenak, peuyeum Bandung, dan galendo merupakan tiga kuliner tradisional Jawa Barat yang menyimpan cerita panjang tentang kebiasaan makan masyarakat Sunda. Namun, di tengah beragam pilihan makanan modern, jajanan yang dahulu akrab di pasar tradisional dan toko oleh-oleh ini bisa jadi belum banyak dikenal generasi Z atau Gen Z.

Ketiganya memiliki ciri khas berbeda. Colenak mengandalkan peuyeum bakar dengan saus gula merah dan kelapa, peuyeum Bandung dikenal sebagai tape singkong yang kerap dijual dalam bentuk utuh, sedangkan galendo dibuat dari endapan kelapa dalam proses pembuatan minyak kelapa tradisional.

Bukan sekadar makanan, ketiganya juga memperlihatkan cara masyarakat Sunda memanfaatkan bahan pangan lokal menjadi hidangan dengan cita rasa khas. Lantas, apakah Gen Z masih mengenal kuliner-kuliner ini, atau justru baru mendengarnya sekarang?

1. Colenak, Peuyeum Bakar dengan Saus Gula Merah

Colenak merupakan kudapan tradisional khas Sunda yang populer di Bandung. Nama colenak berasal dari ungkapan bahasa Sunda dicocol énak, yang menggambarkan cara menikmati peuyeum bakar dengan mencocolkannya ke dalam saus manis.

Bahan utamanya adalah peuyeum atau tape singkong yang dibakar hingga bagian luarnya sedikit kecokelatan. Proses pemanggangan menghasilkan aroma khas, sementara rasa manis dan sedikit asam dari fermentasi singkong berpadu dengan sensasi karamel pada permukaannya.

Colenak biasanya disajikan bersama saus berbahan gula merah dan parutan kelapa. Daun pandan dapat digunakan untuk menambah aroma harum pada saus tersebut. Perpaduan rasa manis, gurih, dan sedikit asam membuat kudapan ini memiliki karakter berbeda dari jajanan modern yang banyak dijumpai sekarang.

Menurut kisah kuliner yang dikenal di Bandung, colenak diperkenalkan oleh Aki Murdi pada 1930. Kudapan ini kemudian menjadi salah satu makanan tradisional yang lekat dengan identitas kuliner Sunda.

Colenak juga memiliki catatan sejarah menarik karena pernah disajikan sebagai hidangan penutup bagi delegasi dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955.

Meski demikian, colenak kini tidak selalu mudah ditemukan di setiap sudut kota. Keberadaannya lebih bergantung pada penjual jajanan tradisional, tempat kuliner khas Sunda, dan usaha yang masih mempertahankan resep lama.

Bagi Gen Z yang terbiasa dengan dessert kekinian, colenak bisa menjadi pengalaman berbeda: makanan sederhana yang mengandalkan rasa alami singkong fermentasi, aroma bakaran, dan saus kelapa.

Apakah Gen Z Tahu Colenak?

Pernah melihat peuyeum dibakar lalu disajikan dengan saus gula merah dan kelapa? Itulah colenak. Namanya mungkin terdengar asing bagi sebagian anak muda, tetapi makanan ini merupakan bagian dari sejarah kuliner Bandung yang telah dikenal sejak puluhan tahun lalu.

Baca Juga: Nostalgia Jajanan Masa Kecil Era 90-an: Es Nongnong, Kue Putu, dan Bandros

2. Peuyeum Bandung, Oleh-Oleh Khas yang Punya Cita Rasa Unik

Peuyeum Bandung merupakan salah satu makanan tradisional yang identik dengan Jawa Barat. Berbahan dasar singkong yang difermentasi menggunakan ragi, peuyeum memiliki rasa manis dengan sentuhan asam khas proses fermentasi.

Salah satu ciri yang membedakannya dari tape singkong yang biasa disajikan dalam potongan kecil adalah bentuknya. Peuyeum Bandung kerap dijual dalam bentuk singkong utuh dan digantung di kios-kios oleh-oleh.

Pembuatan peuyeum dimulai dengan mengupas dan membersihkan singkong. Singkong kemudian direbus atau dikukus hingga matang, lalu didinginkan sebelum ragi ditaburkan secara merata. Setelah itu, singkong disimpan dalam wadah bersih untuk menjalani proses fermentasi.

Selama fermentasi, pati dalam singkong mengalami perubahan yang menghasilkan rasa manis dan aroma khas. Lamanya proses serta kondisi penyimpanan memengaruhi tekstur dan cita rasa hasil akhirnya.

Peuyeum yang dibuat dengan baik memiliki tekstur cukup kokoh, tetapi tetap lembut ketika dimakan. Dibandingkan tape yang lebih basah, peuyeum Bandung sering memiliki bagian luar yang relatif lebih kesat sehingga praktis dibawa sebagai buah tangan.

Peuyeum juga dapat dinikmati dengan berbagai cara. Selain dimakan langsung, bahan ini dapat dibakar menjadi colenak atau diolah menjadi aneka kudapan lain.

Keberadaan peuyeum sebagai oleh-oleh membuatnya cukup dikenal oleh wisatawan yang berkunjung ke Bandung. Namun, bagi generasi muda yang lebih akrab dengan makanan cepat saji dan camilan kemasan, proses fermentasi tradisional serta variasi pemanfaatannya mungkin belum banyak diketahui.

3. Galendo, Kudapan Khas Ciamis dari Endapan Kelapa

Jika colenak dan peuyeum lekat dengan Bandung, galendo dikenal sebagai makanan tradisional dari Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Kudapan ini dibuat dari endapan kelapa yang dihasilkan dalam proses pembuatan minyak kelapa tradisional, yang dikenal masyarakat setempat sebagai minyak keletik.

Galendo memiliki cita rasa gurih dengan sentuhan manis alami kelapa. Teksturnya cenderung padat dan berserat, sedangkan aromanya khas kelapa yang dimasak dalam waktu lama.

Sejarah galendo berkaitan dengan tradisi pengolahan kelapa di wilayah Ciamis. Ketika produksi minyak kelapa menjadi bagian dari kegiatan masyarakat, endapan yang tersisa dari proses pemasakan santan dimanfaatkan kembali sebagai makanan, bukan langsung dibuang.

Cara pengolahan tersebut memperlihatkan bagaimana bahan sisa produksi pangan dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai konsumsi dan ekonomi.

Secara tradisional, pembuatan galendo memerlukan kelapa tua yang diparut untuk diambil santannya. Santan kemudian dimasak dalam wajan besar selama berjam-jam sambil diaduk hingga minyak terpisah dari endapan berwarna kecokelatan.

Endapan tersebut selanjutnya disaring dan dipres untuk mengurangi kandungan minyak sebelum dicetak menjadi galendo. Proses pemasakan yang panjang menghasilkan aroma kelapa yang kuat dan tekstur khas.

Kini, galendo tidak hanya hadir dalam rasa tradisional. Sejumlah produsen mengembangkan variasi seperti cokelat, susu, dan kacang untuk menyesuaikan produk dengan selera konsumen yang lebih luas. Galendo juga dapat diolah menjadi makanan lain, termasuk sambal galendo dan brownies galendo.

Meski memiliki variasi modern, galendo tetap membawa identitas kuliner Ciamis. Makanan ini menjadi contoh bagaimana tradisi pengolahan pangan lokal dapat bertahan melalui inovasi tanpa sepenuhnya meninggalkan bahan dasarnya.

Baca Juga: Anak 90-an Disebut Generasi Golden Time, Apa Istimewanya Pada Masa Itu?

Menjaga Kuliner Tradisional agar Tetap Dikenal Generasi Muda

Colenak, peuyeum Bandung, dan galendo memiliki bahan serta cara pembuatan yang berbeda, tetapi ketiganya sama-sama berakar pada tradisi kuliner masyarakat Jawa Barat.

Colenak memperlihatkan kreativitas mengolah singkong fermentasi menjadi kudapan bakar. Peuyeum menunjukkan pemanfaatan fermentasi untuk menghasilkan makanan dengan cita rasa khas, sementara galendo lahir dari tradisi pengolahan kelapa yang memanfaatkan endapan produksi minyak.

Ketiganya juga memperlihatkan bahwa kuliner tradisional tidak selalu membutuhkan bahan mahal atau teknik modern untuk menghasilkan cita rasa yang khas. Pengetahuan mengenai bahan lokal dan cara pengolahannya menjadi bagian penting dari identitas makanan tersebut.

Bagi Gen Z, mengenal kuliner tradisional bisa dimulai dengan mencoba makanan yang masih dijual di pasar, sentra oleh-oleh, atau usaha kuliner khas Sunda. Mengenal asal-usul dan proses pembuatannya juga membantu membedakan makanan tradisional dari produk modern yang hanya mengadaptasi namanya.

Meski tidak semua kuliner lama benar-benar langka, keberadaan penjual dan produsen tradisional di setiap daerah berbeda-beda. Karena itu, memperkenalkan makanan tersebut kepada generasi muda menjadi salah satu cara agar pengetahuan kuliner lokal tetap dikenal dan diwariskan.

Jadi, dari colenak, peuyeum Bandung, dan galendo, mana yang sudah pernah kamu coba? Atau justru ada yang baru kamu kenal namanya?