Lensakabar.com, Bandung - Di tengah maraknya hiburan modern dan budaya populer dari luar negeri, kesenian tradisional Reak Dogdog masih mendapat tempat di hati masyarakat Bandung Timur, Jawa Barat. Pertunjukan yang memadukan tabuhan alat musik tradisional, tarian, dan arak-arakan ini tetap menjadi hiburan warga, terutama ketika ada hajatan seperti khitanan.

Pertunjukan Reak Dogdog melintas di kawasan Jalan Cijambe, Cinunuk, Bandung Timur pada hari Minggu (11/10/2026). Di bawah terik matahari, warga berbondong-bondong berdiri di pinggir jalan untuk menyaksikan iring-iringan kesenian tradisional tersebut.

Pemandangan itu memperlihatkan bahwa hiburan rakyat masih memiliki daya tarik tersendiri. Warga tidak harus datang ke gedung pertunjukan atau membeli tiket untuk menikmati tontonan. Ketika rombongan Reak Dogdog melintas di lingkungan mereka, masyarakat bisa berkumpul dan menyaksikannya secara langsung.

Bagi sebagian warga, kehadiran pertunjukan tersebut menjadi kesempatan untuk sejenak melepas penat setelah menjalani rutinitas selama sepekan. Hiburan yang berlangsung di ruang terbuka itu juga menghadirkan suasana berbeda di tengah aktivitas masyarakat sehari-hari.

Reak Dogdog Bandung Timur Masih Meramaikan Jalanan

Reak Dogdog merupakan bagian dari tradisi kesenian masyarakat Sunda yang masih dikenal di sejumlah wilayah Bandung Timur, termasuk Cinunuk, Cileunyi, dan Ujungberung.

Pertunjukan ini mengandalkan bunyi alat musik dogdog yang ditabuh dengan irama enerjik. Suara perkusi tersebut berpadu dengan gerakan para penampil dan arak-arakan yang menjadi bagian dari pertunjukan Reak.

Di kawasan Bandung Timur, kesenian ini masih kerap dijumpai dalam berbagai kegiatan masyarakat. Hajatan warga, khususnya khitanan, menjadi salah satu momen ketika Reak Dogdog hadir untuk memeriahkan acara.

Dalam sejumlah pertunjukan, Reak juga dapat dipadukan dengan unsur seni rakyat lainnya, termasuk kuda lumping. Iringan musik yang ramai dan gerakan para penampil membuat pertunjukan ini mudah menarik perhatian orang yang berada di sepanjang jalur arak-arakan.

Di sekitar Cinunuk dan wilayah sekitarnya, pertunjukan semacam ini bahkan masih dapat dijumpai hampir setiap pekan, terutama ketika ada kegiatan atau hajatan warga.

Kehadirannya bukan hanya menjadi hiburan bagi keluarga yang mengadakan acara, tetapi juga tontonan bagi masyarakat sekitar yang ingin menyaksikan kesenian tersebut tanpa harus menjadi bagian dari acara utama.

Baca Juga: Anak 90-an Disebut Generasi Golden Time, Apa Istimewanya Pada Masa Itu?

Tabuhan Dogdog Menjadi Ciri Khas Pertunjukan

Salah satu unsur penting dalam kesenian ini adalah alat musik dogdog. Alat musik perkusi tradisional Sunda tersebut dibuat dari kayu dengan kulit yang membentang pada salah satu sisinya sebagai sumber bunyi ketika dipukul.

Dogdog memiliki beberapa jenis, di antaranya dogdog tilingtit, dogdog tong, dan dogdog brung. Perbedaan jenis alat tersebut menjadi bagian dari kekayaan instrumen yang digunakan dalam kesenian tradisional ini.

Ketika dimainkan bersama, tabuhan dogdog membangun irama yang mengiringi gerakan dan perjalanan rombongan. Bunyi yang khas menjadi salah satu penanda kehadiran Reak Dogdog, bahkan sebelum seluruh iring-iringan terlihat oleh warga.

Dalam perkembangannya di tengah masyarakat, Reak Dogdog tidak hanya hadir sebagai permainan musik. Pertunjukan ini menjadi bagian dari kegiatan sosial yang mempertemukan warga dalam suasana ramai dan meriah.

Pada sejumlah pementasan, Reak juga memiliki unsur pertunjukan yang berkaitan dengan tradisi dan kepercayaan masyarakat setempat, termasuk fenomena kesurupan yang kerap diasosiasikan dengan pertunjukan tersebut.

Perpaduan musik, gerak, arak-arakan, dan unsur tradisi itulah yang membuat Reak Dogdog memiliki karakter berbeda dari hiburan modern yang dinikmati melalui layar atau ruang pertunjukan tertutup.

Hiburan Gratis yang Menjadi Pelepas Penat Warga

Bagi masyarakat yang menyaksikan iring-iringan Reak Dogdog di Jalan Cijambe, pertunjukan tersebut menjadi kesempatan menikmati hiburan secara langsung tanpa dipungut biaya.

Di tengah rutinitas pekerjaan dan aktivitas harian, tontonan yang hadir di lingkungan sendiri memberikan alternatif hiburan yang mudah dijangkau. Warga cukup berdiri di pinggir jalan untuk melihat rombongan kesenian melintas.

Salah seorang warga yang menyaksikan pertunjukan itu mengungkapkan bahwa kehadiran hiburan rakyat menjadi kesempatan untuk melepas penat setelah menjalani aktivitas selama sepekan. Pertunjukan yang dapat dinikmati secara gratis tersebut memberikan pengalaman rekreasi sederhana bagi masyarakat.

Antusiasme warga yang berkumpul di sepanjang jalan, meskipun cuaca sedang terik, menunjukkan bahwa Reak Dogdog masih mampu menarik perhatian masyarakat setempat.

Namun, daya tarik kesenian ini tidak semata-mata terletak pada keramaian pertunjukannya. Kehadirannya dalam hajatan juga memperlihatkan hubungan antara kesenian tradisional dan kehidupan sosial warga yang masih terjalin hingga sekarang.

Bertahan di Tengah Maraknya Budaya Populer

Perkembangan hiburan modern membuat masyarakat memiliki semakin banyak pilihan tontonan. Musik internasional, drama Korea, dan berbagai konten digital kini menjadi bagian dari ragam hiburan yang mudah dijumpai.

Di tengah perubahan tersebut, Reak Dogdog masih hadir dalam kehidupan masyarakat Bandung Timur melalui pertunjukan langsung di lingkungan warga.

Kesenian ini memiliki ruang tersendiri karena berkaitan dengan tradisi lokal dan kegiatan sosial masyarakat. Kehadirannya dalam hajatan membuat warga dapat menyaksikan pertunjukan secara bersama-sama, bukan hanya menikmatinya sebagai tontonan individual.

Pertunjukan di Jalan Cijambe, Cinunuk, pada Minggu (11/10/2026) menjadi salah satu contoh bagaimana Reak Dogdog masih meramaikan ruang publik. Warga yang berkumpul di pinggir jalan memperlihatkan bahwa kesenian tradisional tersebut belum kehilangan seluruh daya tariknya di tengah perubahan pola hiburan.

Keberlangsungan Reak Dogdog juga menunjukkan pentingnya ruang bagi kesenian lokal untuk terus hadir di tengah masyarakat. Selama pertunjukan masih menjadi bagian dari kegiatan warga, tradisi tersebut memiliki kesempatan untuk dikenal dan dinikmati oleh generasi berikutnya.

Di Bandung Timur, Reak Dogdog bukan sekadar iring-iringan musik yang melintas di jalan. Kesenian ini masih menjadi bagian dari suasana hajatan, hiburan warga, dan tradisi lokal yang dapat disaksikan secara langsung.