Lensakabar.com, Jakarta - Ketimpangan ekonomi masyarakat Indonesia terlihat bukan hanya dari besarnya pengeluaran rumah tangga, tetapi juga dari cara penduduk membagi anggaran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, kelompok masyarakat dengan pengeluaran terendah mengalokasikan hampir dua pertiga anggarannya untuk makanan, sementara belanja rokok dan tembakau secara nasional justru melampaui pengeluaran untuk daging, telur, dan susu jika dibandingkan secara terpisah maupun gabungan.

Gambaran tersebut tercatat dalam publikasi BPS bertajuk Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Maret 2026. Data ini memperlihatkan dua persoalan berbeda dalam pola konsumsi rumah tangga, yakni besarnya beban kebutuhan pangan bagi kelompok berpengeluaran rendah dan tingginya alokasi belanja rokok dibandingkan sejumlah komoditas pangan yang menjadi sumber protein serta nutrisi.

Ketimpangan Pengeluaran Makanan Terlihat dari Kelompok Kuintil

BPS membagi penduduk ke dalam lima kelompok kuintil berdasarkan tingkat pengeluaran. Setiap kuintil mewakili 20% penduduk, mulai dari kelompok dengan pengeluaran terendah hingga kelompok dengan pengeluaran tertinggi.

Pada Kuintil 1, kelompok masyarakat dengan pengeluaran paling rendah, belanja makanan mencapai 64,60% dari total pengeluaran rumah tangga. Sebaliknya, anggaran untuk kebutuhan bukan makanan hanya sebesar 35,40%.

Komposisi tersebut berbeda jauh dari kelompok Kuintil 5. Pada kelompok 20% penduduk dengan pengeluaran tertinggi, belanja makanan hanya mengambil porsi 39,21%, sedangkan pengeluaran bukan makanan mencapai 60,79%.

"Penduduk pada Kuintil 5 mencatatkan porsi pengeluaran untuk makanan sebesar 39,21%, sementara porsi pengeluaran bukan makanan mencapai 60,79%," tulis BPS dalam publikasinya, dikutip Minggu (11/10/2026).

Perbedaan ini menunjukkan bahwa semakin rendah kelompok pengeluaran, semakin besar bagian anggaran yang harus disediakan untuk kebutuhan pangan. Sebaliknya, kelompok dengan pengeluaran lebih tinggi memiliki porsi anggaran bukan makanan yang lebih besar.

Pola serupa terlihat pada kelompok di antara kedua ujung tersebut. Proporsi belanja makanan pada Kuintil 2 mencapai 60,78%, Kuintil 3 sebesar 57,00%, dan Kuintil 4 sebesar 51,69%.

"Pangsa pengeluaran makanan terus menurun secara bertahap seiring meningkatnya kelas pengeluaran, mulai dari Kuintil 1 sebesar 64,60%, Kuintil 2 sebesar 60,78%, Kuintil 3 sebesar 57,00%, Kuintil 4 sebesar 51,69%, hingga Kuintil 5 sebesar 39,21%," jelas BPS dalam laporan tersebut.

Kecenderungan ini sejalan dengan Hukum Engel, yang menjelaskan bahwa porsi pengeluaran untuk makanan cenderung menurun ketika tingkat pendapatan atau kesejahteraan meningkat. Artinya, besarnya persentase belanja pangan tidak selalu menunjukkan jumlah uang yang dikeluarkan, tetapi juga memperlihatkan seberapa besar ruang anggaran rumah tangga yang tersisa setelah kebutuhan dasar dipenuhi.

Baca Juga: Hilirisasi Rp180 Triliun Diluncurkan Prabowo, Investasi Rp13.000 Triliun Dibidik

Bagi kelompok berpengeluaran rendah, besarnya porsi kebutuhan pangan membuat ruang untuk membiayai kebutuhan lain menjadi lebih terbatas. Data tersebut juga memperlihatkan mengapa perubahan harga makanan dapat menjadi tekanan besar bagi rumah tangga yang sebagian besar anggarannya sudah terserap untuk konsumsi sehari-hari.

Belanja Rokok di Indonesia Lebih Besar daripada Pengeluaran Daging

Di tengah besarnya alokasi anggaran untuk makanan, data BPS juga mencatat tingginya pengeluaran masyarakat untuk rokok dan tembakau.

Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk Indonesia untuk kelompok rokok dan tembakau mencapai Rp94.180. Angka itu setara dengan 11,57% dari total pengeluaran makanan masyarakat dan menjadi kelompok pengeluaran terbesar kedua setelah makanan jadi.

Jika dibandingkan dengan sejumlah bahan pangan, pengeluaran rokok tercatat lebih tinggi daripada belanja daging, telur, dan susu.

"Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk Indonesia untuk mengonsumsi daging hanya sebesar Rp40.352, sedangkan untuk telur dan susu sebesar Rp44.915," tulis BPS dalam publikasinya.

Apabila pengeluaran daging, telur, dan susu dijumlahkan, nilainya mencapai Rp85.267 per kapita sebulan. Jumlah tersebut masih lebih rendah daripada pengeluaran rokok dan tembakau yang mencapai Rp94.180.

Selisihnya sekitar Rp8.913 per kapita sebulan. Sementara itu, rata-rata pengeluaran untuk buah-buahan tercatat sebesar Rp48.784 per kapita sebulan, atau hampir separuh pengeluaran untuk rokok dan tembakau.

Perbandingan tersebut tidak serta-merta berarti setiap rumah tangga mengurangi pembelian makanan demi membeli rokok. Data rata-rata nasional juga tidak menjelaskan hubungan sebab-akibat antara kedua jenis pengeluaran tersebut. Namun, angka-angka itu menunjukkan besarnya alokasi konsumsi rokok jika dibandingkan dengan beberapa kelompok pangan yang memiliki fungsi penting dalam pemenuhan gizi.

Mengapa Masyarakat Sulit Berhenti Merokok?

Besarnya pengeluaran rokok menimbulkan pertanyaan mengenai faktor yang membuat konsumsi produk tembakau tetap menjadi bagian dari belanja rutin masyarakat. Namun, publikasi BPS yang menjadi sumber data ini mencatat pola pengeluaran, bukan penelitian yang mengukur alasan seseorang mulai merokok atau kesulitan menghentikannya.

Salah satu faktor yang perlu dibedakan adalah ketergantungan terhadap nikotin. Zat ini dapat menimbulkan ketergantungan sehingga upaya berhenti merokok tidak selalu cukup dilakukan hanya dengan niat. Ketika konsumsi dihentikan, seseorang dapat mengalami gejala putus nikotin, seperti keinginan kuat untuk merokok, mudah tersinggung, gelisah, atau kesulitan berkonsentrasi.

Selain faktor biologis, kebiasaan yang terbentuk dalam aktivitas sehari-hari juga dapat memengaruhi perilaku merokok. Seseorang bisa terbiasa merokok pada waktu tertentu, saat beristirahat, ketika berkumpul dengan teman, atau dalam situasi yang sebelumnya selalu disertai konsumsi rokok. Lingkungan sosial dan kemudahan memperoleh produk tembakau juga dapat menjadi faktor yang perlu diperhatikan ketika membahas upaya berhenti merokok.

Cuaca terkadang dapat menjadi bagian dari situasi atau rutinitas yang diasosiasikan seseorang dengan kebiasaan merokok. Namun, tidak tersedia data dalam publikasi BPS tersebut yang membuktikan bahwa kondisi cuaca merupakan penyebab utama masyarakat Indonesia sulit berhenti merokok. Karena itu, faktor cuaca tidak dapat dijadikan penjelasan tunggal atas tingginya pengeluaran rokok secara nasional.

Penting pula untuk tidak menyamakan tingginya pengeluaran dengan tingginya tingkat ketergantungan. Angka pengeluaran menunjukkan nilai belanja, sedangkan tingkat ketergantungan memerlukan data tersendiri mengenai perilaku merokok dan kondisi individu.

Dengan demikian, data konsumsi BPS memberikan gambaran tentang besarnya alokasi belanja rokok, tetapi belum menjawab secara langsung mengapa masyarakat terus merokok atau mengapa sebagian perokok kesulitan berhenti.

Pengeluaran Rokok di Perdesaan Lebih Tinggi

Pola pengeluaran rokok juga terlihat pada perbedaan antara wilayah perkotaan dan perdesaan. BPS mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk rokok dan tembakau di daerah perdesaan mencapai Rp100.951.

Pada kelompok pengeluaran pangan lainnya di perdesaan, belanja daging tercatat Rp26.046 per kapita sebulan, telur dan susu Rp38.016, serta buah-buahan Rp37.563.

Jika hanya dibandingkan dengan daging, pengeluaran rokok dan tembakau di perdesaan hampir empat kali lipat lebih besar. Namun, jika ketiga kelompok pangan tersebut digabungkan, totalnya mencapai Rp101.625 per kapita sebulan, sedikit lebih tinggi daripada pengeluaran rokok dan tembakau.

Perbandingan ini penting agar data tidak ditafsirkan secara berlebihan. Pengeluaran rokok memang lebih tinggi daripada masing-masing kelompok pangan yang disebutkan, tetapi tidak melampaui total gabungan belanja daging, telur dan susu, serta buah-buahan di wilayah perdesaan.

Angka tersebut juga tidak membuktikan bahwa seluruh penduduk desa memiliki pola konsumsi yang sama. Data yang disajikan merupakan rata-rata pengeluaran, sehingga kondisi masing-masing rumah tangga dapat berbeda.

Data Pengeluaran Menjadi Gambaran Tantangan Kesejahteraan

Dua pola yang tercatat dalam publikasi BPS memperlihatkan sisi berbeda dari konsumsi masyarakat Indonesia. Kelompok dengan pengeluaran terendah menghadapi komposisi anggaran yang lebih berat pada kebutuhan makanan, sedangkan pengeluaran rokok dan tembakau mengambil porsi yang cukup besar dalam belanja konsumsi nasional.

Data ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pembahasan kesejahteraan dan konsumsi rumah tangga. Meski demikian, angka pengeluaran saja belum cukup untuk memastikan penyebab kemiskinan, kondisi gizi keluarga, atau hubungan langsung antara belanja rokok dan kemampuan memenuhi kebutuhan pangan.

Untuk memahami persoalan tersebut secara menyeluruh, diperlukan data tambahan yang secara khusus mengukur kondisi pendapatan rumah tangga, pola konsumsi individu, status gizi, serta perilaku merokok. Publikasi BPS Maret 2026 memberikan gambaran dasar mengenai bagaimana masyarakat membagi anggaran, sekaligus menunjukkan perbedaan komposisi pengeluaran antara kelompok berpengeluaran rendah dan tinggi.