Hajat Lembur Pangandaran: Tradisi Leluhur di Tengah Sorotan Milangkala
Hajat Lembur Bojong Karekes di Pangandaran menghadirkan tradisi Sunda, 14 tumpeng, dan permainan tradisional menjelang Milangkala ke-14.
Lensakabar.com, Pangandaran - Masyarakat Bojong Karekes, Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran, merawat tradisi leluhur melalui Hajat Lembur yang digelar pada Minggu (11/10/2026). Selain menjadi ruang kebersamaan warga, kegiatan ini turut menandai partisipasi masyarakat dalam menyambut Milangkala atau hari jadi ke-14 Kabupaten Pangandaran yang diperingati pada 25 Oktober 2026.
Mengusung tema Hajat Lembur Mupusti Tradisi Mulasara Budaya Neruskeun Carita Kolot, kegiatan tersebut menghadirkan prosesi adat, sajian tumpeng, hingga permainan tradisional anak-anak. Sebanyak 14 tumpeng kecil disiapkan sebagai simbol partisipasi warga dalam menyambut hari jadi daerah.
Perayaan budaya ini berlangsung ketika Milangkala ke-14 Kabupaten Pangandaran juga menjadi perhatian publik terkait besaran anggaran kegiatan dan surat imbauan infak serta sedekah bagi aparatur sipil negara (ASN). Pemerintah kabupaten membantah bahwa angka hampir Rp2 miliar yang beredar merupakan anggaran yang seluruhnya dibebankan kepada APBD.
Hajat Lembur Bojong Karekes Merawat Tradisi Leluhur
Dikutip dari Inakor.id Hajat Lembur menjadi salah satu cara masyarakat Bojong Karekes mempertahankan warisan budaya di tengah perubahan zaman. Kegiatan ini tidak hanya menampilkan prosesi adat, tetapi juga menghidupkan kebiasaan berbagi dan berkumpul yang diwariskan antargenerasi.
Tuan rumah kegiatan sekaligus Panglima Barisan Adat Raja Sultan Nusantara, Yana Macan, menjelaskan bahwa masyarakat setempat memiliki agenda tradisi yang diselenggarakan pada bulan Muharram dan Jumadil Awal.
Pada bulan Muharram, warga melaksanakan tradisi Seba dengan membawa hasil bumi untuk diserahkan dan kemudian dibagikan bersama. Sementara itu, kegiatan pada bulan Jumadil Awal lebih menekankan semangat memberi sebagai bentuk kesadaran diri.
“Sedangkan di bulan Jumadil Awal, tradisinya berfokus pada semangat memberi sebagai wujud kesadaran diri,” jelas Yana Macan.
Rangkaian Hajat Lembur Bojong Karekes terdiri atas empat tahapan utama. Prosesi diawali dengan rajah Singa Balai, dilanjutkan tawasul sebagai bentuk permohonan doa keselamatan kepada Allah SWT, kemudian ditutup dengan tumpengan dan cucurak atau makan bersama.
Melalui rangkaian tersebut, masyarakat mempertahankan tradisi yang memadukan unsur adat, doa, dan kebersamaan.
Empat Belas Tumpeng Sambut Milangkala Pangandaran
Salah satu bagian yang menonjol dalam kegiatan tersebut adalah penyajian tumpeng. Dua tumpeng utama melambangkan semangat saling mendukung, sedangkan 14 tumpeng kecil disiapkan untuk menyambut Milangkala Kabupaten Pangandaran yang memasuki usia ke-14 pada 25 Oktober 2026.
Simbol tersebut menghubungkan tradisi masyarakat dengan peringatan hari jadi kabupaten. Warga tidak hanya merayakan pertambahan usia daerah, tetapi juga menggunakan kegiatan adat sebagai ruang untuk menegaskan kebersamaan.
Permainan tradisional anak-anak turut menjadi bagian dari acara. Oray-orayan, congklak, dan ucing sumput diperkenalkan kembali kepada generasi muda agar mereka mengenal permainan yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sunda.
Kegiatan tersebut menjadi upaya menjaga keberadaan budaya lokal melalui pengalaman langsung. Anak-anak dapat mengenal permainan tradisional, sementara masyarakat dewasa ikut mempertahankan kebiasaan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Puncak kebersamaan berlangsung melalui cucurak. Warga duduk dan makan bersama tanpa membedakan status sosial, menjadikan hidangan sebagai sarana mempererat hubungan antarmasyarakat.
Yana Macan menyampaikan kebanggaannya terhadap perkembangan Pangandaran sejak dimekarkan dari Kabupaten Ciamis. Ia berharap kabupaten tersebut terus berkembang dengan kehidupan masyarakat yang sejahtera dan harmonis.
Ia juga menilai pelayanan publik kini dirasakan lebih cepat dan dekat oleh masyarakat.
“Kami berharap Pangandaran senantiasa gemah ripah repeh rapih,” pungkasnya.
Baca Juga: Colenak hingga Galendo, Kuliner Jadul yang Jarang Dikenal Gen Z
Milangkala ke-14 Pangandaran Disorot karena Anggaran
Di luar kegiatan budaya di tingkat masyarakat, peringatan Milangkala ke-14 Kabupaten Pangandaran turut menjadi pembahasan setelah beredar angka anggaran hampir Rp2 miliar dan surat imbauan infak serta sedekah bagi ASN.
Bupati Pangandaran Citra Pitriyami membantah bahwa angka tersebut merupakan anggaran yang seluruhnya dibebankan kepada APBD kabupaten. Ia menjelaskan bahwa kondisi keuangan daerah masih mengalami defisit sehingga pemerintah perlu memprioritaskan penggunaan anggaran.
Pernyataan itu disampaikan Citra kepada wartawan di Pendopo Bupati Pangandaran pada Senin (5/10/2026).
“Kita sekarang kondisinya juga lagi defisit. Sekalipun ada uang, tidak mungkin juga saya menghabis-habiskan uang buat seremonial. Lebih baik dipakai bayar utang oleh saya, betul tidak? Dibanding hura-hura, tidak mungkin,” ujar Citra.
Menurut Citra, angka hampir Rp2 miliar yang beredar kemungkinan berasal dari rancangan atau perkiraan awal dalam draf proposal kepanitiaan. Ia menegaskan angka tersebut bukan nilai anggaran yang telah disetujui dan direalisasikan pemerintah daerah.
Citra menyebut dukungan anggaran melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran berada pada kisaran ratusan juta rupiah. Dana tersebut digunakan untuk mendukung rangkaian hari jadi serta kegiatan pelestarian dan pengembangan budaya lokal.
Kegiatan yang disiapkan meliputi karnaval seni budaya, ronggeng amen, seni kuda lumping, perlombaan olahraga, kegiatan keagamaan, hingga tabligh akbar. Pemerintah daerah juga mengadakan lomba memasak pindang gunung, salah satu kuliner khas Pangandaran.
“Kegiatan itu bukan sekadar sebagai hiburan, tapi sekaligus menjadi sarana promosi budaya dan destinasi wisata Pangandaran,” ucap Citra.
DPRD Minta Imbauan Infak ASN Dicabut
Persoalan lain yang mengiringi persiapan Milangkala adalah surat imbauan infak dan sedekah bagi ASN. Ketua DPRD Kabupaten Pangandaran Asep Noordin meminta agar surat tersebut dicabut karena dinilai belum memiliki kejelasan.
Permintaan itu muncul di tengah pembahasan mengenai sumber pembiayaan kegiatan hari jadi. Di satu sisi, pemerintah kabupaten menyatakan anggaran daerah masih menghadapi defisit dan membantah bahwa angka hampir Rp2 miliar merupakan alokasi APBD yang telah disetujui. Di sisi lain, surat imbauan infak ASN memunculkan pertanyaan mengenai dasar dan pelaksanaannya.
Perbedaan persoalan tersebut perlu dilihat secara terpisah. Penjelasan pemerintah mengenai anggaran kegiatan tidak dengan sendirinya menjawab persoalan surat imbauan infak, yang menjadi perhatian Ketua DPRD.
Peringatan hari jadi daerah mencakup berbagai kegiatan budaya, sosial, dan keagamaan. Karena itu, penjelasan mengenai pembiayaan serta kejelasan mekanisme pengumpulan sumbangan menjadi bagian dari informasi yang dibutuhkan masyarakat.
Tradisi Warga dan Peringatan Hari Jadi Daerah
Hajat Lembur Bojong Karekes memperlihatkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga tradisi lokal menjelang Milangkala ke-14 Kabupaten Pangandaran. Prosesi adat, permainan tradisional, tumpeng, dan cucurak menjadi bagian dari perayaan yang berpusat pada kebersamaan warga.
Pada saat yang sama, persiapan hari jadi kabupaten berlangsung di tengah pembahasan publik mengenai anggaran dan surat imbauan infak ASN. Pemerintah daerah telah memberikan penjelasan mengenai angka anggaran yang beredar, sementara Ketua DPRD meminta kejelasan terkait surat imbauan tersebut.
Milangkala Kabupaten Pangandaran dijadwalkan berlangsung pada 25 Oktober 2026. Rangkaian kegiatan budaya dan perayaan hari jadi menjadi bagian dari agenda menyambut peringatan tersebut, dengan Hajat Lembur Bojong Karekes sebagai salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam mempertahankan warisan budaya Sunda.
0 Komentar