Keji! Dua Serangan KKB di Yahukimo: 1 Warga Sipil Tewas, 1 ASN Terluka
Dua serangan di Yahukimo menewaskan satu warga dan melukai ASN. Rangkaian kekerasan di Papua Pegunungan menuntut perlindungan warga dan penegakan hukum.
Lensakabar.com, Yahukimo - Kekerasan terhadap warga sipil kembali terjadi di Papua Pegunungan. Dua insiden penyerangan di Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, pada Minggu malam (11/10/2026) dan Senin pagi (12/10/2026) menyebabkan seorang warga berinisial A (46) meninggal dunia dan seorang aparatur sipil negara (ASN), ET (51), mengalami luka akibat serangan senjata tajam.
Tim gabungan Satgas Operasi Damai Cartenz-2026 bersama Polres Yahukimo kini menyelidiki kedua kejadian tersebut. Aparat menduga penyerangan melibatkan anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB) Kodap XVI Yahukimo pimpinan Kopi Tua Heluka. Dugaan tersebut masih dalam penyelidikan untuk mengungkap pihak yang bertanggung jawab.
Dua kejadian terbaru ini menambah daftar kekerasan terhadap warga sipil yang dilaporkan terjadi di wilayah Papua Pegunungan dalam beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya tewas ditembak pada September 2026. Seorang sopir travel asal Toraja, Aris Sanda, juga dilaporkan tewas setelah disandera dan ditembak di jalur Wamena menuju Mbua.
Rangkaian peristiwa tersebut menegaskan pentingnya langkah penanganan yang nyata dan terukur. Pengungkapan pelaku, perlindungan masyarakat, serta penegakan hukum harus berjalan beriringan agar warga sipil tidak terus hidup dalam ancaman kekerasan.
Dua Penyerangan Terjadi di Dekai, Yahukimo
Kepala Operasi Damai Cartenz Irjen Pol Faizal Ramadhani mengatakan dua kasus kekerasan di Dekai terjadi pada Minggu malam dan Senin pagi.
Dalam kejadian pertama, seorang warga berinisial A (46) meninggal dunia. Sementara itu, pada Senin pagi, ASN Pemerintah Kabupaten Yahukimo berinisial ET (51) mengalami luka akibat serangan dua orang tak dikenal yang menggunakan senjata tajam di kawasan Perumahan Eselon IV Jalur 3.
Korban ET dilaporkan mengalami luka sabetan pada pergelangan tangan dan punggung. Ia kemudian dievakuasi ke Jayapura untuk mendapatkan perawatan intensif.
Jenazah A juga telah dievakuasi melalui Timika sebelum diterbangkan ke Makassar untuk dimakamkan di kampung halamannya.
Personel gabungan telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan meminta keterangan sejumlah saksi. Penyelidikan dilakukan untuk mengungkap pelaku sekaligus memastikan situasi keamanan di wilayah tersebut tetap kondusif.
Faizal mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpancing informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
"Masyarakat diharapkan tetap tenang dan bersama-sama menjaga keamanan agar tetap kondusif," kata Faizal.
Tiga ASN Jayawijaya Tewas Ditembak pada September
Sebelum dua penyerangan terbaru di Yahukimo, Papua Pegunungan juga diguncang penembakan terhadap tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya pada 9 September 2026.
Ketiga korban adalah Aprida Rapi' (49), Albinus Mehan (35), dan Wili Mbuik (24). Mereka menjadi korban penembakan ketika dalam perjalanan kembali setelah menjalankan kegiatan terkait bantuan pertanian dan pemeriksaan lahan di wilayah Distrik Muliama.
Kepala Operasi Damai Cartenz saat itu menyebut pelaku diduga berasal dari kelompok KKB Kodap III Ndugama. Aparat menyatakan penyelidikan terus dilakukan untuk mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab.
Kasus tersebut memperlihatkan risiko yang dihadapi warga ketika menjalankan aktivitas sehari-hari di wilayah rawan kekerasan. Aparatur pemerintah yang bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat pun dapat menjadi korban ketika perjalanan mereka diserang.
Baca Juga: Penyerangan EPA Persib U-18: Mungkinkah Kelompok Suporter Dibekukan?
Sopir Travel Aris Sanda Tewas, Kendaraan Ditemukan Terbakar
Pada 15 September 2026, sopir travel asal Toraja bernama Aris Sanda, yang juga dikenal sebagai Bapak Tasya, dilaporkan tewas dalam insiden yang melibatkan kelompok bersenjata di jalur Wamena menuju Mbua, Kabupaten Jayawijaya.
Menurut laporan yang disampaikan aparat, rombongan kendaraan yang ditumpangi korban dihentikan sekelompok orang bersenjata. Penumpang lainnya diperintahkan kembali, sementara Aris dibawa oleh kelompok tersebut.
Aparat kemudian menemukan kendaraan korban dalam kondisi terbakar dengan jenazahnya di dalam mobil. Kasus itu menjadi bagian dari rangkaian kekerasan terhadap warga sipil yang tengah ditangani aparat keamanan.
Kematian Aris menunjukkan bahwa ancaman kekerasan tidak hanya menyasar pegawai pemerintah atau orang yang berada di lokasi konflik. Pengemudi transportasi yang melayani mobilitas penumpang dan pengiriman logistik pun menghadapi risiko ketika melintasi jalur rawan.
Tiga Warga Sipil Tewas di Yahukimo pada Juli
Kekerasan terhadap warga sipil juga dilaporkan terjadi di sekitar Jalan Trans Papua, Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo, pada 20 Juli 2026. Tiga warga sipil meninggal dunia dalam insiden penembakan yang menurut keterangan aparat diduga dilakukan kelompok bersenjata pimpinan Kopitua Heluka.
Ketiga korban terdiri atas sepasang suami istri, Kumis Kogoya dan istrinya, serta seorang perempuan dari Suku Unaukam. Aparat menyatakan penyelidikan dan pengejaran terhadap pihak yang diduga terlibat terus dilakukan.
Kasus tersebut memperlihatkan beratnya dampak kekerasan terhadap masyarakat yang tidak sedang terlibat dalam operasi keamanan. Kematian warga sipil, terlepas dari latar belakang maupun aktivitas mereka, menuntut penyelidikan yang serius dan perlindungan nyata bagi masyarakat.
Warga Sipil Terus Menjadi Korban KKB di Papua
Yang membuat rangkaian kekerasan di Papua menjadi persoalan serius bukan hanya jumlah korban, tetapi kenyataan bahwa dampaknya menjangkau orang-orang yang menjalani kehidupan biasa. Warga yang mencari nafkah, sopir yang mengangkut penumpang, hingga ASN yang menjalankan tugas pemerintahan turut menjadi korban dalam sejumlah insiden di Yahukimo dan Jayawijaya. Mereka bukan petempur, tetapi keselamatan mereka ikut terancam di tengah konflik bersenjata.
Rangkaian kejadian dari Juli hingga Oktober 2026 memperlihatkan bahwa risiko terhadap masyarakat sipil tidak dapat dipandang sebagai persoalan satu daerah atau satu peristiwa semata. Ketika warga tewas di Yahukimo, pegawai pemerintah menjadi korban penembakan di Jayawijaya, dan seorang sopir kehilangan nyawa dalam insiden kekerasan, pertanyaan yang perlu dijawab adalah bagaimana masyarakat dapat terus menjalani kehidupan dengan aman ketika ancaman serupa kembali muncul.
Di sinilah penanganan konflik harus menunjukkan hasil yang nyata. Ketika warga terus menjadi korban, kecaman dan penyelidikan saja tidak cukup tanpa upaya mencegah serangan berikutnya. Perlindungan di wilayah rawan, respons terhadap ancaman, serta penegakan hukum yang profesional dan terukur harus berjalan beriringan. Mereka bukan petempur. Mereka adalah warga yang memiliki hak yang sama untuk hidup aman, mencari nafkah, dan kembali ke rumah tanpa takut menjadi korban kekerasan.
0 Komentar