Lensakabar.com, Vandalia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan dirinya merasa senang dapat menjalin hubungan dengan para pemimpin negara besar, termasuk Presiden China Xi Jinping dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump ketika membahas hubungannya dengan para pemimpin negara yang memiliki kekuatan strategis dan senjata nuklir. Ia menilai hubungan dengan pemimpin negara-negara tersebut merupakan sesuatu yang positif.

Trump bahkan secara khusus menyebut Xi Jinping dan Kim Jong Un ketika menjelaskan pandangannya mengenai hubungan dengan pemimpin negara besar.

Trump Bicara Soal Xi Jinping dan Kim Jong Un

Trump mengatakan dirinya menikmati hubungan dengan pemimpin negara-negara besar. Pernyataan itu muncul ketika ia menanggapi pertanyaan mengenai sikapnya terhadap Xi Jinping.

Menurut Trump, China merupakan negara besar dan Presiden Xi Jinping baru saja meninggalkan posisinya setelah melakukan kunjungan atau pertemuan yang disebut Trump dalam pernyataannya.

Trump kemudian menyinggung pertanyaan yang muncul mengenai alasan dirinya dapat bersikap baik kepada Presiden Xi.

Ia mengatakan hubungan dengan pemimpin negara besar merupakan sesuatu yang menyenangkan, terutama karena para pemimpin tersebut memimpin negara dengan kekuatan strategis yang besar.

Trump kemudian membawa Kim Jong Un dalam pembicaraan tersebut.

"Kim Jong Un, Anda tahu siapa itu? Korea Utara," kata Trump ketika menjelaskan sosok pemimpin Korea Utara tersebut.

Trump menyebut Korea Utara memiliki kemampuan rudal nuklir dan menggambarkan hubungannya dengan pemimpin negara tersebut sebagai sesuatu yang menyenangkan untuk dijalani.

Pernyataan Trump itu menempatkan Xi Jinping dan Kim Jong Un dalam satu konteks pembicaraan, yakni hubungan Amerika Serikat dengan pemimpin negara yang memiliki kekuatan strategis besar.

Baca Juga: Gencatan Senjata Gaza Dilanggar, Israel Targetkan Ali al-Amoudi

Trump Singgung Perbedaan Korea Utara dan Iran

Dalam pembicaraan tersebut, Trump juga membandingkan Korea Utara dengan Iran ketika menjelaskan mengenai isu senjata nuklir.

Trump menyatakan Korea Utara memiliki kemampuan nuklir, sementara ia mengatakan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.

Pernyataan itu disampaikan ketika Trump menjelaskan alasan dirinya menyebut Kim Jong Un sebagai salah satu pemimpin negara yang memiliki kekuatan besar.

Trump juga menggambarkan hubungan dengan para pemimpin negara besar sebagai sesuatu yang dapat dijalankan meskipun terdapat perbedaan kepentingan antara negara-negara tersebut.

Pembahasan itu memperlihatkan pendekatan Trump yang menekankan hubungan langsung dengan para pemimpin negara lain. Xi Jinping dan Kim Jong Un menjadi dua nama yang disebut ketika Trump berbicara mengenai kemampuannya berhubungan dengan pemimpin negara yang memiliki kekuatan strategis.

Trump tidak hanya menyebut China dan Korea Utara sebagai negara dengan kekuatan besar. Ia juga menekankan bahwa menjalin hubungan dengan pemimpin negara-negara tersebut menurutnya merupakan hal yang menyenangkan.

Pernyataan mengenai Xi Jinping muncul setelah Trump menyinggung pertanyaan mengenai sikapnya terhadap Presiden China. Ia kemudian mengarahkan pembicaraan pada hubungan dengan para pemimpin negara besar lainnya.

Nama Kim Jong Un disebut setelah Trump menjelaskan mengenai Korea Utara dan kemampuan militernya. Dalam pernyataannya, Trump menyebut jumlah rudal nuklir yang dimiliki Korea Utara, meski angka tersebut merupakan klaim yang disampaikan Trump dalam pembicaraan tersebut.

Sementara mengenai Iran, Trump menyampaikan pandangannya bahwa negara tersebut tidak akan memiliki senjata nuklir.

Dengan demikian, pembicaraan Trump mencakup dua hal sekaligus: hubungan personal atau diplomatik dengan pemimpin negara besar serta persoalan kekuatan nuklir yang dimiliki sejumlah negara.

Xi Jinping dan Kim Jong Un menjadi contoh yang digunakan Trump untuk menjelaskan bagaimana dirinya berhubungan dengan pemimpin negara yang memiliki kekuatan strategis. Sementara Iran disebut dalam konteks berbeda, yakni terkait pandangan Trump mengenai kepemilikan senjata nuklir.

Pernyataan tersebut menunjukkan bagaimana Trump menempatkan hubungan dengan pemimpin negara besar sebagai bagian dari pendekatannya dalam berinteraksi dengan negara-negara yang memiliki kepentingan dan kekuatan strategis.