Lensakabar.com, Purwakarta - Rencana pengembangan AI Data Center Jatiluhur dihitung menggunakan pendekatan Social Cost-Benefit Analysis (SCBA) untuk melihat apakah keberadaan pusat data tersebut memberikan manfaat sosial-ekonomi yang lebih besar dibandingkan biaya yang ditimbulkan.

Simulasi tersebut dilakukan dan dijelaskan dalam video yang diunggah Alif Towew, nama asli Alif Hijriah, seorang matematikawan, kreator konten edukasi, dan pengusaha digital lulusan Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dalam perhitungan yang ditampilkan, hasil analisis menghasilkan dua skenario berbeda. Skenario pertama menunjukkan Net Present Value (NPV) sekitar minus Rp3,31 triliun. Sementara ketika asumsi penggunaan energi bersih diubah, hasil simulasi menjadi positif sekitar Rp1,997 triliun.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa hasil perhitungan sangat dipengaruhi oleh komponen biaya sosial, terutama biaya emisi karbon dan asumsi sumber energi yang digunakan.

Alif Towew Gunakan SCBA untuk Hitung AI Data Center Jatiluhur

Dalam video tersebut, Alif memulai perhitungan dengan pendekatan SCBA. Metode ini digunakan untuk membandingkan manfaat (benefit) dengan biaya (cost) yang muncul selama periode analisis.

Rumus NPV yang ditampilkan menggunakan periode 10 tahun, dengan manfaat dan biaya setiap tahun yang kemudian didiskontokan berdasarkan tingkat tertentu.

Objek yang dihitung adalah AI Data Center Jatiluhur dengan kapasitas yang disebut mencapai 640 megawatt.

Salah satu komponen awal yang dihitung adalah manfaat sosial tahunan. Dalam simulasi tersebut, manfaat terdiri atas beberapa komponen, termasuk penerimaan fiskal, nilai tambah dan komponen ekonomi lainnya.

Perhitungan yang ditampilkan menghasilkan total manfaat sekitar Rp302,1 miliar per tahun pada salah satu tahap simulasi.

Angka tersebut berasal dari penjumlahan beberapa komponen manfaat yang ditampilkan dalam video, yakni sekitar Rp131,5 miliar, Rp21,6 miliar, dan Rp149 miliar per tahun.

Baca Juga: Matahari Buatan China Masuk Tahap Penting,Uji Listrik Fusi Ditargetkan 2030

Selain manfaat, Alif memasukkan biaya sosial yang mungkin muncul dari pengoperasian pusat data.

Kebutuhan Air dan Emisi Karbon Masuk Perhitungan

Salah satu komponen yang dihitung adalah kebutuhan air. Dalam materi yang ditampilkan, kebutuhan air pada tahap awal disebut sekitar 6.000 meter kubik per hari.

Kebutuhan tersebut kemudian dikonversi menjadi biaya tahunan berdasarkan tarif air yang digunakan dalam simulasi. Hasil perhitungan untuk komponen irigasi atau air berada di kisaran Rp6,4 miliar per tahun pada skenario pertama.

Komponen berikutnya adalah biaya karbon.

Dalam video, konsumsi listrik pusat data dikaitkan dengan faktor emisi sistem ketenagalistrikan. Perhitungan tersebut menghasilkan emisi sekitar 938 ribu ton CO2 yang kemudian diberi nilai ekonomi menggunakan harga karbon dalam simulasi.

Hasilnya, biaya karbon dihitung mencapai sekitar Rp760 miliar per tahun.

Nilai tersebut menjadi salah satu komponen terbesar dalam perhitungan biaya sosial.

Alif juga memasukkan komponen kebisingan dan efek pulau panas. Namun, untuk bagian ini ditampilkan catatan bahwa perhitungannya masih menunggu data AMDAL. Dalam simulasi, komponen tersebut diberi nilai sekitar Rp4 miliar per tahun.

Jika seluruh komponen biaya tersebut dijumlahkan, biaya sosial tahunan pada skenario pertama berada di kisaran Rp770 miliar.

Dengan manfaat yang jauh lebih kecil dibandingkan biaya sosial tersebut, NPV yang dihitung untuk periode 10 tahun menghasilkan angka negatif.

Skenario Pertama Menghasilkan NPV Minus Rp3,31 Triliun

Dalam tabel perbandingan pada akhir video, skenario pertama atau Skenario A memperlihatkan manfaat sekitar Rp315 miliar.

Sementara biaya karbon tercatat sekitar minus Rp759,5 miliar, biaya air sekitar minus Rp6,4 miliar, dan biaya kebisingan sekitar minus Rp4 miliar.

Dari kombinasi angka tersebut, hasil NPV dalam simulasi ditunjukkan sekitar:

-Rp3,31 triliun.

Angka tersebut merupakan hasil simulasi SCBA selama 10 tahun berdasarkan asumsi yang digunakan Alif dalam video.

Artinya, apabila seluruh asumsi pada Skenario A digunakan, nilai biaya sosial dan lingkungan yang dimasukkan ke dalam perhitungan lebih besar dibandingkan manfaat yang dihitung.

Namun, video tersebut kemudian menguji skenario berbeda.

Energi Bersih Mengubah Hasil Simulasi Menjadi Positif

Pada Skenario B, salah satu perubahan utama berada pada sumber energi. Video menggunakan asumsi bahwa 85 persen kebutuhan listrik berasal dari pembangkit bersih.

Perubahan asumsi tersebut secara langsung memengaruhi komponen biaya karbon.

Jika pada Skenario A biaya karbon berada di kisaran Rp759,5 miliar per tahun, pada Skenario B angka tersebut turun menjadi sekitar Rp113,9 miliar per tahun.

Komponen biaya air dalam simulasi juga berubah. Perhitungan yang ditampilkan menghasilkan angka sekitar Rp36,6 miliar untuk komponen tersebut.

Sementara biaya kebisingan tetap berada di sekitar Rp4 miliar.

Dengan perubahan asumsi tersebut, hasil perhitungan NPV berbalik dari negatif menjadi positif.

Pada tabel akhir video, Skenario B menghasilkan NPV sekitar:

+Rp1,997 triliun.

Perubahan hasil dari minus Rp3,31 triliun menjadi positif sekitar Rp1,997 triliun menunjukkan besarnya pengaruh asumsi energi bersih terhadap perhitungan manfaat dan biaya sosial proyek.

Hasil SCBA Bergantung pada Asumsi yang Digunakan

Dua hasil tersebut menunjukkan bahwa penilaian terhadap AI Data Center Jatiluhur dalam video tidak semata-mata didasarkan pada potensi pendapatan ekonomi.

SCBA yang ditampilkan juga memperhitungkan biaya yang berkaitan dengan konsumsi air, emisi karbon, kebisingan dan efek pulau panas.

Dalam Skenario A, biaya karbon menjadi komponen terbesar sehingga NPV berada pada posisi negatif. Ketika penggunaan pembangkit bersih dinaikkan menjadi 85 persen dalam Skenario B, biaya karbon yang dihitung turun dan hasil NPV berubah menjadi positif.

Dengan demikian, kesimpulan dari simulasi Alif Towew bukan sekadar apakah AI Data Center Jatiluhur menghasilkan keuntungan atau kerugian secara bisnis. Perhitungan tersebut memperlihatkan bagaimana pilihan sumber energi dan besarnya biaya sosial-lingkungan dapat mengubah hasil analisis kelayakan sosial sebuah proyek.

Perlu dicatat, angka tersebut merupakan hasil simulasi dalam video Alif Towew, bukan hasil kajian SCBA resmi yang dikeluarkan pemerintah. Video tersebut juga secara eksplisit menempatkan data kebisingan dan pulau panas sebagai komponen yang masih menunggu data AMDAL.

Dengan pendekatan itu, AI Data Center Jatiluhur dalam simulasi memiliki dua kemungkinan hasil: NPV sekitar minus Rp3,31 triliun pada Skenario A dan sekitar positif Rp1,997 triliun pada Skenario B.

Sumber: video yang diunggah Alif Towew (Alif Hijriah).
Video Alif Towew tentang SCBA AI Data Center Jatiluhur