Harga Emas Stabil, Minyak Dunia Turun di Tengah Gejolak Geopolitik
Harga emas dunia relatif stabil, sementara minyak turun setelah G7 sepakat melepas cadangan. Faktor suku bunga dan geopolitik masih membayangi pasar.
Lensakabar.com, Jakarta - Harga emas dunia relatif bertahan pada penutupan perdagangan Senin, sementara harga minyak mentah justru melemah. Pergerakan kedua komoditas tersebut dipengaruhi faktor berbeda, mulai dari penguatan dolar AS dan ekspektasi kebijakan Federal Reserve hingga tambahan pasokan minyak dari negara-negara G7.
Di pasar emas, tekanan dari dolar AS dan tingginya imbal hasil US Treasury masih membatasi kenaikan harga. Namun, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober yang semakin berkurang memberikan ruang bagi emas untuk bertahan.
Harga Emas Tertekan Dolar AS dan Suku Bunga The Fed
Mengutip CNBC, Selasa (6/10/2026), harga emas spot turun 0,2% menjadi US$4.133,59 per ons pada pukul 14.25 waktu Amerika Serikat. Sementara emas berjangka AS untuk pengiriman Desember turun tipis 0,02% menjadi US$4.161,5 per ons.
Analis pasar Forex.com Fawad Razaqzada melihat masih adanya kemungkinan tekanan jangka pendek sebelum minat beli kembali menguat.
“Kita bisa melihat penurunan jangka pendek (pada harga emas) sebelum pembeli masuk secara signifikan. Ini berkaitan dengan dolar yang terus menguat dan imbal hasil yang masih tinggi,” kata Razaqzada.
Penguatan indeks dolar AS membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Pada saat yang sama, imbal hasil US Treasury 10 tahun berada di dekat level tertinggi dalam hampir dua dekade.
Namun, arah kebijakan moneter The Fed mulai menjadi faktor yang berbeda bagi pasar emas. Sejumlah data ekonomi AS dalam beberapa hari terakhir disebut berada di bawah ekspektasi pasar, sehingga taruhan terhadap kenaikan suku bunga ikut berkurang.
Ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober turun setelah pertumbuhan lapangan kerja AS pada September melambat lebih dari perkiraan. Data penggajian nonpertanian untuk dua bulan sebelumnya juga mengalami revisi turun.
Baca Juga: B50 Sudah Disalurkan ke 6.050 SPBU, Pemerintah Kejar Ketahanan Energi
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober hanya sekitar 24%, turun dari sekitar 70% pada pekan sebelumnya. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada Desember masih berada di kisaran 86%.
Suku bunga yang lebih tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas karena komoditas tersebut tidak memberikan imbal hasil. Di sisi lain, emas tetap digunakan sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi.
Pasar juga menantikan risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September yang dijadwalkan terbit pekan ini. Dokumen tersebut diharapkan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter The Fed setelah menaikkan suku bunga pada bulan lalu untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
Dalam proyeksi jangka lebih panjang, Metals Focus memperkirakan harga emas berpotensi mencetak rekor baru pada 2027. Rata-rata harga emas tahun depan diperkirakan mencapai US$5.330 per ons.
Harga Minyak Dunia Turun Setelah G7 Lepas Cadangan
Berbeda dengan emas, harga minyak dunia berakhir melemah pada perdagangan Senin. Tambahan pasokan menjadi salah satu faktor yang menekan harga di tengah masih berlangsungnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk.
Harga minyak Brent sebagai patokan dunia turun 1,9% dan ditutup pada US$100,32 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun sekitar 1,8% menjadi US$89,43 per barel.
Penurunan tersebut terjadi setelah negara-negara G7 pada Jumat menyepakati pelepasan 100 juta barel diesel dan minyak mentah dari cadangan darurat. Keputusan tersebut diambil setelah adanya tekanan dari Presiden AS Donald Trump.
Negara-negara G7 juga menyatakan tidak akan memberlakukan pembatasan ekspor energi. Tambahan pasokan tersebut turut mengimbangi kekhawatiran mengenai kemungkinan kerusakan lebih lanjut terhadap infrastruktur minyak di kawasan Teluk akibat perang AS-Israel dengan Iran yang masih berlangsung.
Ekspor minyak mentah dari Timur Tengah juga menunjukkan peningkatan. Data pengiriman menunjukkan ekspor kawasan tersebut berada di atas level sebelum perang dalam empat dari tujuh hari pada pekan terakhir September.
Kondisi itu terjadi meskipun terdapat serangan terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz. Di pasar produk minyak, harga gasoil berjangka ICE justru naik lebih dari 2% menjadi US$1.390,25 per barel pada Senin.
Kepala analis KCM Trade Tim Waterer menilai keputusan G7 menggunakan cadangan strategis mengurangi sebagian kekhawatiran terhadap pasokan dalam jangka pendek.
“Keputusan G7 untuk menggunakan cadangan strategis mengurangi sebagian kekhawatiran pasokan dalam jangka pendek. Ada pula pandangan yang berkembang bahwa volume ekspor Arab Saudi mulai kembali menuju level sebelum perang, meskipun minyak tersebut masih dikirim dengan biaya lebih tinggi dan melalui rute yang kurang efisien,” kata Waterer.
“Kombinasi tersebut cukup untuk menekan harga saat ini, meskipun risiko kerusakan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk belum hilang.”
Risiko geopolitik sendiri masih membayangi pasar. Kelompok Houthi mengklaim telah meluncurkan rudal balistik dan drone ke fasilitas Saudi Aramco di Riyadh dan wilayah Khurais, Arab Saudi. Kelompok tersebut menyebut serangan itu sebagai respons atas 50 serangan udara dan rudal yang dilakukan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman dalam 12 jam sebelumnya.
Arab Saudi belum mengonfirmasi laporan mengenai serangan tersebut.
Pada Minggu, pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dan diakui secara internasional menyatakan akan melancarkan operasi militer besar untuk merebut kembali seluruh wilayah yang dikuasai kelompok Houthi yang didukung Iran.
Di tengah kondisi tersebut, Aramco memangkas harga minyak mentah untuk pasar Asia pada November. Harga yang ditetapkan berada pada level terendah dalam enam tahun.
Analis ING dalam catatannya menyebut harga Brent masih bertahan di atas US$100 per barel karena ketegangan geopolitik yang terus berlangsung serta meningkatnya serangan terhadap kapal komersial di kawasan Teluk.
Sementara itu, OPEC+ menunda pembahasan mengenai penentuan kuota produksi minyak anggotanya untuk 2027.
Dua sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan perang Iran telah mengganggu sejumlah proyek peningkatan kapasitas produksi minyak di Timur Tengah. Kondisi itu membuat proyeksi mengenai potensi produksi minyak dunia ke depan masih menghadapi ketidakpastian.
Tekanan terhadap pasar energi juga datang dari Eropa. Ukraina berencana meningkatkan serangan terhadap kilang minyak Rusia. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyampaikan rencana tersebut dalam wawancara dengan Reuters yang diterbitkan pada Sabtu.
0 Komentar