30 Ribu Warga Alami Krisis Air di Pangandaran, Petani Terjepit, Nelayan Panen Raya
Kemarau di Pangandaran berdampak pada 30.146 warga dan menghambat musim tanam, sementara hasil tangkapan nelayan meningkat di tengah risiko pesisir.
Lensakabar.com, Pangandaran - Kemarau panjang di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, memunculkan kondisi yang berbeda di tengah masyarakat. Ketika kekeringan meluas dan mengganggu aktivitas pertanian, sebagian nelayan justru menikmati peningkatan hasil tangkapan. Perbedaan ini memperlihatkan bagaimana satu musim dapat memengaruhi kebutuhan rumah tangga, sumber penghasilan, dan aktivitas ekonomi warga dengan cara yang tidak sama.
Berdasarkan pemutakhiran data kebencanaan per Minggu (11/10/2026), kekeringan telah berdampak pada 30.146 jiwa dari 10.286 kepala keluarga yang tersebar di 10 kecamatan. Pemerintah daerah masih menyalurkan bantuan air bersih, sementara petani menghadapi keterbatasan air untuk memulai musim tanam. Di sektor perikanan, aktivitas pelelangan dan hasil tangkapan justru meningkat selama periode musim tangkap.
Situasi tersebut menempatkan ketersediaan air sebagai persoalan mendesak bagi warga, sekaligus memperlihatkan perbedaan kondisi antara masyarakat yang bergantung pada lahan pertanian dan mereka yang menggantungkan penghasilan dari laut.
Puluhan Ribu Warga Membutuhkan Air Bersih
Meluasnya dampak kemarau membuat kebutuhan air bersih menjadi salah satu persoalan utama di Pangandaran. Kecamatan Langkaplancar menjadi wilayah tambahan dalam pendataan setelah warga setempat mengajukan bantuan pasokan air.
Kepala Pelaksana Penanggulangan Bencana Pangandaran Dodo Kusnadi mengatakan distribusi air terus dilakukan melalui kerja sama lintas instansi.
“Distribusi pasokan air terus kami gulirkan secara berkelanjutan melalui sinergi lintas instansi,” ujar Dodo, Senin (12/10/2026).
Sebanyak 3.013.000 liter air bersih telah disalurkan menggunakan 240 armada tangki penampung. Distribusi melibatkan relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana), petugas kebencanaan daerah, serta Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy.
Kecamatan Kalipucang tercatat sebagai salah satu wilayah dengan dampak terbesar, dengan lebih dari 8.000 jiwa terdampak. Kecamatan Pangandaran dan Padaherang juga mencatatkan lebih dari 5.000 warga terdampak di masing-masing wilayah.
Meski cakupan kekeringan semakin luas, pemerintah daerah masih mempertahankan status siaga. Penetapan status tanggap darurat menunggu rapat koordinasi bersama unsur pimpinan daerah dan penerbitan keputusan bupati.
Untuk membantu mengatasi keterbatasan sumber air, petugas juga mengoptimalkan empat titik sumur bor pertanian. Sumber air tersebut dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan pengairan sawah sekaligus konsumsi warga.
Baca Juga: Warga Krisis Air Saat Kemarau, Bantuan Jhonlin Baratama Terus Berjalan
Petani Kehilangan Kesempatan Memulai Musim Tanam
Dampak kemarau tidak berhenti pada persoalan kebutuhan air rumah tangga. Sektor pertanian turut menghadapi tekanan karena sawah di sejumlah wilayah tidak mendapatkan pasokan air yang memadai.
Pada akhir September 2026, petani seharusnya mulai kembali menanam padi setelah menyelesaikan panen sebelumnya. Namun, lahan yang mengering membuat sebagian petani tidak dapat mengolah sawah maupun memulai penanaman.
Kondisi tersebut terlihat di Kecamatan Kalipucang dan Padaherang. Tanah persawahan yang biasanya berlumpur dan tergenang air berubah keras serta retak. Sisa tanaman padi mengering, sementara sebagian lahan yang biasanya terendam ketika musim hujan kini tidak memungkinkan untuk ditanami.
Dilansir dari jabar.tribunnews.com, Hermawan (47), petani asal Kecamatan Kalipucang, mengatakan ketiadaan air irigasi membuat aktivitas pertanian terhenti.
“Ya, pokoknya sekarang gagal tanam, apalagi panen. Air irigasi juga sudah tidak ada,” ujar Hermawan kepada Tribun Jabar di Desa Pamotan, Sabtu (10/10/2026) sore.
Ia mengaku hanya bisa menunggu hujan turun karena lahan yang biasanya menjadi sumber penghidupan tidak dapat digarap seperti biasa.
“Kalau ke sawah paling cuma lihat-lihat saja sambil mengelus dada dan berharap turun hujan,” katanya.
Tekanan serupa dialami petani kebun di Padaherang. Marsudin (37), yang biasanya menanam terong untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, mengaku kesulitan melanjutkan aktivitas berkebun karena air semakin sulit diperoleh.
“Biasanya kita tanam terong di kebun. Tapi sekarang kan kemarau, sulit air. Buat kebutuhan sehari-hari di rumah saja sudah susah,” ucap Marsudin.
Ia juga menyebut ukuran buah kelapa di kebunnya mengecil, sementara sejumlah ranting pohon mulai layu dan mengering.
“Buah kelapa di kebun saya yang tadinya besar sekarang kecil-kecil. Ranting pohon banyak yang layu dan kering,” ujarnya.
Bagi petani, tertundanya musim tanam berarti tertundanya pula kesempatan memperoleh hasil dari lahan yang mereka kelola. Ketika sawah belum dapat ditanami dan kebun kekurangan air, sumber pendapatan rumah tangga ikut menghadapi ketidakpastian.
Baca Juga: Hajat Lembur Pangandaran: Tradisi Leluhur di Tengah Sorotan Milangkala
Hasil Tangkapan Nelayan Meningkat di Tengah Kemarau
Berbeda dari kondisi pertanian, sektor perikanan tangkap di Pangandaran justru menunjukkan peningkatan aktivitas selama periode musim tangkap yang berlangsung sekitar Juli hingga Oktober 2026.
Laporan lokal pada awal Oktober menyebut transaksi di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) KUD Minasari, kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Cikidang, meningkat seiring melimpahnya hasil tangkapan. Komoditas yang diperdagangkan meliputi ikan dan berbagai jenis udang. Salah seorang nelayan bahkan melaporkan memperoleh lebih dari empat kuintal udang dalam sekali melaut pada awal Oktober.
Selain udang, hasil tangkapan nelayan pada periode ini mencakup bawal hitam, ikan layur, dan ikan kukudian. Udang rebon juga menjadi komoditas yang dipanen di sepanjang Pantai Timur Pangandaran. Cuaca panas membantu proses penjemuran hasil tangkapan tersebut.
Peningkatan hasil laut memberikan peluang bagi nelayan untuk memperoleh pendapatan dari aktivitas penangkapan. Namun, kondisi tersebut tidak berarti seluruh pelaku usaha pesisir terbebas dari risiko kemarau.
Ketersediaan hasil tangkapan dapat berubah, sedangkan kegiatan melaut tetap bergantung pada kondisi perairan. Karena itu, peningkatan hasil pada periode tertentu tidak dapat dijadikan jaminan bahwa pendapatan nelayan akan terus meningkat sepanjang musim kemarau.
Ancaman Kekeringan Masih Berlanjut
Di balik peningkatan aktivitas perikanan, kemarau panjang juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi lingkungan pesisir. Berkurangnya aliran air tawar ke muara berpotensi mengubah keseimbangan kadar garam di wilayah pertemuan sungai dan laut.
Kawasan muara, termasuk Legokjawa di Kecamatan Cimerak, menjadi salah satu wilayah yang disebut mengalami penyusutan aliran air. Perubahan kondisi muara perlu diperhatikan karena kawasan tersebut merupakan habitat penting bagi sejumlah organisme perairan.
Panas ekstrem dan kenaikan suhu permukaan laut juga menjadi faktor yang perlu diwaspadai terkait kesehatan ekosistem laut, termasuk risiko pemutihan karang. Namun, untuk memastikan tingkat dampaknya di Pangandaran, diperlukan data pemantauan lingkungan setempat.
Risiko operasional di laut juga tetap perlu diperhitungkan. Prakiraan maritim BMKG untuk perairan Pangandaran pada 13 Oktober 2026 mencatat potensi gelombang mencapai 3 meter pada waktu tertentu, sehingga nelayan perlu memperhatikan informasi cuaca dan kondisi perairan sebelum melaut.
Dengan demikian, peningkatan hasil tangkapan dan krisis air bersih berlangsung dalam konteks yang berbeda. Nelayan dapat memperoleh hasil lebih banyak pada periode tertentu, sementara petani dan warga menghadapi kebutuhan air yang semakin mendesak.
Bagi Kabupaten Pangandaran, tantangan kemarau tidak hanya berkaitan dengan penyaluran air bersih, tetapi juga keberlangsungan musim tanam dan pengelolaan risiko di kawasan pesisir. Distribusi air yang masih berjalan, kondisi lahan pertanian, serta dinamika hasil tangkapan menjadi bagian dari perkembangan yang perlu terus dipantau seiring berlangsungnya musim kemarau.
0 Komentar