Lensakabar.com, Garut - Dua peristiwa berbeda yang melibatkan handphone terjadi di Kabupaten Garut, Jawa Barat, dalam rentang Jumat hingga Sabtu (16–17/10/2026). Seorang perempuan berinisial DAS (37) meninggal dunia setelah tertemper kereta api Turangga di Kecamatan Kadungora, sementara seorang pria bernama Rian Ardiansyah (31) menjadi korban perampasan telepon seluler oleh dua terduga pelaku di Kecamatan Cibatu.

Dalam peristiwa di Cibatu, Rian berhasil melawan dan mengejar kedua terduga pelaku setelah ponsel miliknya dirampas. Teriakan korban mengundang kedatangan warga yang kemudian membantu mengamankan satu orang terduga pelaku. Adapun dalam kecelakaan di Kadungora, korban perempuan diduga berjalan di jalur rel sambil menggunakan handphone ketika kereta melintas.

Kedua kejadian tersebut berlangsung dalam waktu dan lokasi berbeda. Meski sama-sama melibatkan telepon seluler, dugaan pembegalan dan kecelakaan kereta itu memiliki kronologi serta penanganan masing-masing.

Tanya Alamat Ujungnya Rampas Handphone

Dugaan pencurian dengan kekerasan terjadi di Kampung Cileles, Desa Cibunar, Kecamatan Cibatu, pada Sabtu (17/10/2026) pagi. Kapolsek Cibatu, AKP Amirudin Latif, menjelaskan dua terduga pelaku awalnya mendekati Rian dengan berpura-pura menanyakan alamat.

Ketika korban lengah, salah seorang terduga pelaku langsung merampas handphone yang sedang dipegang Rian. Korban yang tidak terima kemudian mengejar keduanya hingga terjadi perkelahian. Dalam kejadian itu, salah seorang terduga pelaku mengeluarkan senjata tajam berupa celurit.

Situasi semakin memanas ketika Rian berteriak meminta pertolongan. Warga yang mendengar teriakan tersebut segera berdatangan dan membantu mengamankan MA alias Unyil, salah satu terduga pelaku. MA mengalami luka-luka akibat amukan massa sebelum diserahkan kepada polisi.

“Pelaku melakukan pencurian diduga dengan modus pura-pura menanyakan alamat dan kemudian langsung merampas HP korban yang pada saat itu sedang dipegang korban,” kata Amirudin, Sabtu (17/10/2026).

Setelah menerima penyerahan dari warga, polisi membawa MA ke Mapolsek Cibatu untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Sementara itu, satu terduga pelaku lainnya berhasil melarikan diri menggunakan sepeda motor dan masih perlu ditelusuri keberadaannya.

Baca Juga: Mendadak Disambangi Polisi! Dua Kos Kosan di Bandung Dirazia, Ini Hasilnya

Diduga Asik Main Handphone di Jalur Rel, Perempuan Disambar Kereta Api

Sehari sebelum peristiwa dugaan pembegalan tersebut, seorang perempuan berinisial DAS (37), warga Garut, meninggal dunia setelah tertemper KA Turangga pada Jumat (16/10/2026) malam.

Kecelakaan terjadi di kilometer 205, petak jalan Leles–Karangsari, tepatnya di Desa Neglasari, Kecamatan Kadungora. Saat itu, KA Turangga melaju dari arah Bandung menuju Surabaya.

Kasi Humas Polres Garut, Ipda Susilo Adhi, mengatakan keterangan sejumlah saksi menyebut korban diduga berjalan kaki di jalur kereta api sambil menggunakan handphone. Masinis dilaporkan telah beberapa kali membunyikan klakson untuk memperingatkan korban, tetapi korban diduga tidak menyadari kereta yang mendekat.

“Berdasarkan keterangan saksi yang dihimpun, korban diduga sedang berjalan kaki di jalur kereta api sambil menggunakan telepon seluler. Pada saat bersamaan, KA Turangga melintas dari arah Bandung menuju Surabaya. Masinis dilaporkan telah membunyikan klakson, namun korban tidak menyadarinya,” kata Susilo, Sabtu (17/10/2026).

Petugas Polsek Kadungora kemudian mengevakuasi jenazah korban ke RSUD dr. Slamet Garut. Polisi juga berkoordinasi dengan pihak rumah sakit dan petugas Stasiun Leles untuk menangani kejadian tersebut.

Keluarga korban telah diberi tahu mengenai peristiwa itu. Menurut Susilo, pihak keluarga menolak dilakukan autopsi dan menerima kejadian tersebut sebagai musibah.

Tanpa Sadar Hipnosis Layar Itu Nyata

Maraknya penggunaan gawai secara terus-menerus (always-on culture) telah melahirkan pola perilaku baru di mana seseorang mengalami keterikatan stimulasi digital yang sangat tinggi.

Kondisi ini membuat pikiran berada dalam mode autopilot, sehingga refleks otak terlambat memproses sinyal bahaya dari lingkungan nyata mulai dari pergerakan orang asing di sekitar hingga suara kendaraan yang mendekat.

Perilaku menatap layar tanpa jeda saat berada di ruang publik menunjukkan bahwa batas antara area aman dan area berbahaya kini makin kabur di mata pengguna handphone.

Akibatnya, refleks perlindungan diri spontan yang seharusnya muncul secara alami saat ada ancaman justru tertumpuk dan tertunda oleh fokus yang terserap sepenuhnya ke dalam layar.

Tragedi Akibat Pesona Handphone

Dua insiden tragis di Garut ini sejatinya menyingkap benang merah yang lebih dalam tentang bahaya hilangnya kesadaran situasional (situational awareness) di ruang publik. Telepon seluler saat ini bukan lagi hanya dijadikan sekadar alat komunikasi, melainkan bisa menjadi sumber pencipta 'titik buta' (blind spot) yang membuat penggunanya mengabaikan tanda-tanda bahaya di sekeliling mereka.

Dalam kacamata keselamatan dan keamanan publik, penggunaan gawai atau handphone saat beraktivitas di titik rawan seperti pinggir jalan raya atau jalur rel kereta menciptakan kondisi inattentional blindness, yaitu saat persepsi sensorik manusia gagal merespons ancaman sekitar. Baik itu momentum kewaspadaan terhadap aksi kejahatan jalanan maupun sinyal peringatan darurat seperti klakson kereta api.

Dua kejadian di Cibatu dan Kadungora menjadi pengingat keras bahwa menjaga fokus pada lingkungan sekitar bukan hanya perkara melindungi barang berharga dari incaran pelaku kejahatan, melainkan pertaruhan keselamatan jiwa.

Baca Juga: 550 Ribu Orang Turun ke Jalan, Prancis Diguncang Penjarahan dan Pembakaran