Lensakabar.com, Bangkok – Perekonomian Asia menunjukkan ketahanan di tengah tekanan pasokan energi dan ketidakpastian geopolitik global. Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut menjadi pendorong aktivitas ekonomi, terutama melalui peningkatan permintaan teknologi, ekspor, dan investasi digital di sejumlah negara kawasan.

Wakil Direktur Departemen Asia dan Pasifik Dana Moneter Internasional (IMF), Thomas Helbling, menyampaikan penilaian tersebut dalam wawancara dengan Xinhua di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF dan World Bank Group 2026 di Bangkok.

“Untuk Tiongkok, dan kawasan Asia secara keseluruhan, kami melihat ketahanan,” ujar Helbling.

Dalam laporan Regional Economic Outlook: Asia and Pacific yang dirilis pada 15 Oktober 2026, IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia pada 2026 menjadi 4,8 persen, naik 0,4 poin persentase dibandingkan proyeksi April. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok diperkirakan mencapai 4,5 persen, atau 0,1 poin persentase lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya.

Menurut Helbling, dampak guncangan energi sejauh ini lebih terbatas daripada yang diperkirakan. Sejumlah negara mampu meredam tekanan melalui penggunaan sumber energi alternatif, persediaan yang tersedia, serta kebijakan pemerintah untuk membatasi kenaikan harga yang dibayar konsumen.

Namun, ketahanan tersebut bukan berarti kawasan Asia terbebas dari risiko. IMF mengingatkan bahwa penyangga energi tidak dapat digunakan tanpa batas. Jika gangguan pasokan berlangsung lebih lama, tekanan harga berpotensi semakin terasa dan membebani pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, pesatnya perkembangan AI membuka peluang baru. Teknologi ini mendorong permintaan terhadap semikonduktor, pusat data, komputasi awan, dan berbagai layanan digital. Bagi negara-negara Asia yang memiliki infrastruktur, tenaga kerja, serta industri teknologi yang kompetitif, perkembangan tersebut dapat menjadi sumber pertumbuhan tambahan.

Peta Difusi AI Asia: Singapura Memimpin, Indonesia Tertinggal

Perkembangan AI di Asia tidak hanya terlihat dari investasi perusahaan teknologi, tetapi juga dari tingkat penggunaannya oleh masyarakat. Data Global AI Adoption 2025 dari Microsoft AI Economy Institute menunjukkan perbedaan yang cukup besar dalam pemanfaatan AI generatif.

Pada paruh kedua 2025, tingkat difusi AI generatif tercatat sebesar 60,9 persen di Singapura, 30,7 persen di Korea Selatan, 23,5 persen di Vietnam, dan 19,7 persen di Malaysia. Jepang mencatat 19,1 persen, Tiongkok 16,3 persen, India 15,7 persen, sedangkan Indonesia berada di posisi 12,7 persen.

Data difusi dari Microsoft ini mencerminkan jangkauan penggunaan AI generatif di tingkat populasi, bukan tolok ukur langsung kontribusi terhadap PDB. Meski demikian, angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa daya saing digital suatu negara kini sangat ditentukan oleh kecepatan masyarakat dan dunianya dalam mengadopsi teknologi ke dalam aktivitas ekonomi riil.

Singapura menempati posisi puncak berkat ekosistem digital dan kesiapan infrastrukturnya, sementara Korea Selatan mencatat lonjakan adopsi yang pesat. Di sisi lain, Vietnam dan Malaysia membuktikan bahwa pemanfaatan AI untuk industri dan ekspor tidak lagi terbatas pada negara berpendapatan tinggi.

Thomas Helbling dari IMF menilai adopsi teknologi di negara-negara tersebut turut menopang kinerja ekspor raksasa Asia seperti Jepang, Tiongkok, dan India. Hal ini membuktikan bahwa persaingan AI bukan sekadar perlombaan membuat perangkat lunak, melainkan kemampuan mengintegrasikan teknologi ke dalam rantai produksi dan perdagangan internasional.

Baca Juga: Website Baru Kian Terancam Tenggelam, Era AI Ubah Peta Trafik

Dampak AI terhadap Ekonomi Internasional

Dampak ekonomi AI menyebar melampaui perusahaan yang mengembangkan model kecerdasan buatan. Ketika perusahaan meningkatkan investasi komputasi, permintaan turut mengalir ke produsen cip, penyedia infrastruktur pusat data, operator jaringan, perusahaan energi, serta penyedia layanan digital.

Korea Selatan menjadi salah satu contoh penting karena memiliki industri semikonduktor yang strategis bagi rantai pasok teknologi global. Jepang juga memiliki peran dalam ekosistem industri elektronik dan peralatan manufaktur, sedangkan Tiongkok dan India mempunyai pasar serta kapasitas industri yang besar untuk mendukung berbagai kebutuhan teknologi.

Dampak tersebut dapat muncul melalui beberapa jalur.

Pertama, investasi infrastruktur. Pengembangan AI memerlukan pusat data, server, perangkat komputasi berperforma tinggi, jaringan komunikasi, dan pasokan listrik yang stabil. Belanja untuk infrastruktur ini dapat mendorong aktivitas konstruksi, manufaktur, jasa teknologi, dan penyediaan energi.

Kedua, peningkatan produktivitas. AI dapat membantu perusahaan menganalisis data, mengotomatisasi pekerjaan berulang, mempercepat layanan pelanggan, dan meningkatkan efisiensi proses produksi. Jika diterapkan secara tepat, teknologi tersebut berpotensi menurunkan biaya dan mempercepat pengambilan keputusan.

Ketiga, perubahan perdagangan internasional. Negara yang memiliki kapasitas produksi semikonduktor, pusat data, layanan komputasi awan, dan tenaga ahli AI berpeluang memperoleh bagian lebih besar dari pertumbuhan ekonomi digital. Sebaliknya, negara yang tertinggal dalam infrastruktur dan keterampilan dapat menghadapi kesulitan untuk menangkap manfaat yang sama.

Namun, kenaikan investasi AI tidak otomatis menghasilkan keuntungan yang sebanding. Helbling mengingatkan adanya risiko ketika investasi sangat besar didukung utang, sementara pendapatan yang dihasilkan belum memenuhi ekspektasi. Jika pasar menilai prospek keuntungan terlalu tinggi, koreksi harga aset dapat menekan investasi dan permintaan.

IMF juga menyoroti potensi dampak AI terhadap pasar tenaga kerja. Dalam laporan regional Oktober 2026, analisis terhadap 40 juta lowongan kerja daring di 19 perekonomian Asia menemukan bahwa permintaan pemberi kerja turun hampir 10 persen pada pekerjaan yang lebih terpapar AI dibandingkan pekerjaan dengan paparan lebih rendah. Temuan tersebut tidak berarti AI secara langsung menghilangkan 10 persen seluruh pekerjaan, melainkan menunjukkan perubahan relatif dalam permintaan lowongan pada kelompok pekerjaan yang diteliti.

Karena itu, manfaat AI perlu dibarengi peningkatan keterampilan tenaga kerja, perlindungan sosial, dan penyesuaian sistem pendidikan. Tanpa langkah tersebut, pertumbuhan yang didorong AI berisiko terkonsentrasi pada sektor dan kelompok pekerja tertentu.

Indonesia dan Peluang Data Center AI

Di tengah persaingan negara-negara Asia, Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat posisi dalam ekosistem AI internasional. Salah satu bidang yang dapat dikembangkan adalah infrastruktur pusat data, terutama karena kebutuhan komputasi global terus meningkat seiring berkembangnya AI generatif dan layanan berbasis data.

Indonesia memiliki pasar domestik yang besar, kebutuhan layanan digital yang terus berkembang, serta potensi sumber energi yang dapat mendukung investasi infrastruktur. Namun, peluang tersebut perlu diterjemahkan menjadi proyek yang layak secara ekonomi, memiliki pasokan listrik yang andal, dan memenuhi standar lingkungan serta keamanan data.

Indonesia Investment Authority (INA) pada 9 September 2026 menyoroti potensi investasi pusat data berbasis AI di Indonesia. Lembaga tersebut menyebut meningkatnya kebutuhan komputasi global mendorong operator pusat data mencari lokasi baru di luar pusat-pusat tradisional yang kapasitasnya semakin terbatas. Ketersediaan energi menjadi salah satu faktor utama yang dipertimbangkan investor.

Sebelumnya, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM pada Juli 2025 mengumumkan fasilitasi rencana investasi Quantum AI Data Center senilai 400 juta dolar AS atau sekitar Rp6 triliun pada tahap awal. Rencana tersebut dipaparkan sebagai peluang untuk mengembangkan kapasitas komputasi mutakhir di Indonesia.

Penting untuk membedakan antara rencana investasi dan kapasitas yang sudah beroperasi. Pengumuman investasi atau penandatanganan kerja sama tidak otomatis berarti seluruh dana telah direalisasikan, pusat data sudah selesai dibangun, atau Indonesia telah menjadi pemimpin komputasi AI di kawasan. Realisasi proyek perlu dinilai berdasarkan perkembangan pembangunan, kapasitas komputasi yang tersedia, penggunaan energi, dan aktivitas ekonomi yang benar-benar tercipta.

Jika dikembangkan dengan baik, pusat data AI dapat memberikan manfaat dalam beberapa aspek.

Pertama, menarik investasi dan memperluas industri pendukung. Pembangunan pusat data membutuhkan lahan, konstruksi, jaringan serat optik, sistem pendingin, perangkat listrik, keamanan siber, serta tenaga teknis. Aktivitas tersebut dapat menciptakan peluang usaha bagi perusahaan lokal, meskipun besarnya dampak terhadap lapangan kerja dan ekonomi bergantung pada skala proyek serta tingkat keterlibatan pemasok domestik.

Kedua, memperkuat kedaulatan dan ketahanan digital. Infrastruktur komputasi yang tersedia di dalam negeri dapat membantu perusahaan dan institusi mengakses layanan dengan latensi lebih rendah serta mendukung kebutuhan pengolahan data. Namun, keberadaan pusat data domestik tidak dengan sendirinya menjamin seluruh data terlindungi; tata kelola, keamanan, dan kepatuhan terhadap regulasi tetap diperlukan.

Ketiga, membuka peluang penggunaan AI di sektor produktif. Infrastruktur komputasi dapat mendukung pengembangan solusi AI untuk manufaktur, pertanian, logistik, layanan keuangan, kesehatan, dan administrasi publik. Manfaat ekonomi yang lebih luas akan muncul apabila kapasitas pusat data digunakan untuk meningkatkan produktivitas, bukan hanya menjadi fasilitas penyimpanan atau komputasi yang melayani pasar luar negeri.

Keempat, memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai internasional. Jika Indonesia mampu menyediakan infrastruktur yang kompetitif, negara ini berpeluang menarik perusahaan teknologi, penyedia layanan komputasi awan, dan pengembang aplikasi. Akan tetapi, untuk memperoleh nilai tambah lebih besar, Indonesia juga perlu mengembangkan talenta AI, riset, perusahaan rintisan, serta kemampuan mengolah teknologi menjadi produk dan layanan bernilai tinggi.

Namun, kunci keberlanjutan investasi pusat data ini sangat bertumpu pada kesiapan pasokan listrik dan efisiensi daya. Tanpa perencanaan jaringan energi yang hijau dan andal, fasilitas komputasi berdaya tinggi justru berisiko menjadi beban baru bagi keandalan energi nasional.

Tantangan Asia: Ancaman Geopolitik & Bubble Investasi AI

Di balik peluang tersebut, IMF mengingatkan bahwa prospek ekonomi Asia tetap menghadapi sejumlah risiko. Guncangan energi, ketegangan geopolitik, fragmentasi perdagangan, dan kemungkinan koreksi investasi AI dapat mengubah arah pertumbuhan.

Helbling menekankan bahwa cadangan energi serta subsidi dan pengurangan pajak dapat membatasi dampak awal kenaikan harga. Namun, kebijakan semacam itu sulit dipertahankan tanpa batas karena berpotensi menambah beban fiskal. Jika gangguan pasokan berlangsung lebih lama, pemerintah perlu menyiapkan kebijakan yang tetap melindungi kelompok rentan tanpa mengabaikan kesehatan anggaran.

Pada sektor AI, risiko muncul apabila investasi yang sangat besar tidak diikuti pendapatan dan keuntungan sesuai ekspektasi. Penggunaan utang yang berlebihan dan konsentrasi investasi pada sektor tertentu dapat memperbesar dampak ketika pasar melakukan koreksi.

IMF menilai kerangka regulasi dan pengawasan keuangan perlu memastikan bahwa sistem keuangan mampu menyerap potensi guncangan. Negara juga perlu menghindari ketergantungan berlebihan pada satu sektor teknologi atau satu sumber pertumbuhan.

Ketegangan geopolitik dan fragmentasi geoekonomi menambah tantangan lain. Hambatan perdagangan dapat meningkatkan biaya produksi, mengganggu rantai pasok, dan mengurangi efisiensi ekonomi. Karena itu, IMF mendorong penyelesaian persoalan mendasar yang memicu sengketa perdagangan serta penguatan sistem perdagangan yang terbuka dan berbasis aturan.

Bagi Indonesia, situasi ini mempertegas pentingnya strategi yang seimbang: menarik investasi AI dan pusat data, tetapi tetap memperhatikan ketahanan energi, kemampuan fiskal, keamanan digital, serta hubungan dagang dengan berbagai mitra internasional.

Memastikan AI Menjadi Mesin Pertumbuhan Riil

Menjadikan AI sebagai mesin pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dengan menarik investasi infrastruktur atau membangun gedung pusat data. Bagi Indonesia, tantangan terbesarnya adalah memastikan hadirnya alih teknologi, peningkatan kualitas tenaga kerja, serta tumbuhnya nilai tambah riil yang dapat dirasakan oleh industri dan masyarakat secara meluas.

Namun, persaingan tidak cukup dimenangkan dengan menarik investasi atau membangun kapasitas komputasi. Indonesia perlu memastikan bahwa infrastruktur tersebut menghasilkan manfaat ekonomi domestik, meningkatkan produktivitas perusahaan, dan membuka akses teknologi bagi lebih banyak pekerja serta pelaku usaha.

Pada saat yang sama, risiko energi, ketegangan geopolitik, dan kemungkinan koreksi investasi AI perlu diantisipasi. Ketahanan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat teknologi berkembang, tetapi juga oleh kemampuan pemerintah dan dunia usaha mengelola risiko serta menyebarkan manfaatnya.

Dalam konteks itu, AI dapat menjadi salah satu penggerak pertumbuhan Asia. Bagi Indonesia, tantangan berikutnya adalah memastikan peluang global tersebut berkembang menjadi investasi yang terealisasi, kemampuan teknologi yang meningkat, dan nilai tambah yang benar-benar dirasakan perekonomian nasional.