Lensakabar.com, Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan kritik setelah Nobel Perdamaian 2026 diberikan kepada Navi Pillay, mantan pejabat tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), bukan kepada dirinya. Di tengah polemik penghargaan tersebut, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kesiapan Moskow membantu Iran mencari penyelesaian konflik regional melalui jalur damai.

Trump mempermasalahkan keputusan Komite Nobel dan mempertanyakan sosok penerima penghargaan. Sementara itu, Putin membahas dukungan Rusia terhadap upaya diplomatik Teheran dalam pertemuan dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Turkmenbashi, Turkmenistan.

Trump Kembali Kritik Keputusan Nobel Perdamaian 2026

Trump menyampaikan kekecewaannya saat menghadiri kampanye Partai Republik di Syracuse, New York, menjelang pemilu 3 November. Ia mengaku tidak mengenal Pillay dan mempertanyakan keputusan pemberian penghargaan tersebut.

"Hari ini, mereka memberikan Hadiah Nobel Perdamaian kepada orang yang saya, maupun orang lain, tak pernah dengar sebelumnya. Dia tokoh misterius," kata Trump.

Meski menyampaikan kritik, Trump juga mengucapkan selamat kepada penerima penghargaan tersebut.

"Tetapi, selamat buat dia, deh," tambahnya.

Trump kemudian kembali mengklaim telah menghentikan delapan perang dan menilai upayanya dalam meredakan konflik internasional layak mendapatkan Nobel Perdamaian. Salah satu konflik yang ia sebut adalah perselisihan antara India dan Pakistan.

"Untuk satu dari delapan perang itu saja, harusnya pantas diganjar Hadiah Nobel. Saya hentikan delapan perang. Belum ada presiden yang bisa seperti ini sebelum saya," ujar Trump.

Ia juga mengkritik Komite Nobel dan Norwegia, negara tempat penghargaan tersebut ditetapkan. Menurut Trump, Amerika Serikat yang diwakilinya sebagai presiden seharusnya memperoleh penghargaan itu.

"Amerika Serikat, yang diwakili saya sebagai presidennya, seharusnya menerima Hadiah Nobel Perdamaian, tetapi saya tidak mendapatkannya. Ini adalah noda yang tak dapat terhapuskan bagi Norwegia," katanya.

Trump bahkan menyebut keputusan tersebut sebagai bentuk pelecehan terhadap penghargaan internasional itu. Ia kembali menyampaikan kritik melalui platform Truth Social dan menuduh Pillay membenci Israel.

Pernyataan tersebut mencerminkan pandangan Trump terhadap penerima penghargaan. Ia berulang kali menyatakan dirinya layak mendapatkan Nobel Perdamaian dan menghubungkan klaim penyelesaian konflik internasional dengan tuntutannya atas penghargaan tersebut.

Siapa Navi Pillay, Penerima Nobel Perdamaian 2026?

Navi Pillay merupakan ahli hukum asal Afrika Selatan yang pernah menjabat sebagai Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia. Ia juga pernah memimpin Pengadilan Pidana Internasional untuk Rwanda dan menjabat sebagai hakim di Mahkamah Pidana Internasional.

Dalam perjalanan kariernya, Pillay terlibat dalam upaya memperkuat penegakan hukum internasional, termasuk penanganan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida.

Pada periode 2021–2025, ia memimpin komisi penyelidikan PBB yang menangani wilayah Palestina yang diduduki. Komisi tersebut menyimpulkan bahwa Israel melakukan genosida di Jalur Gaza. Israel membantah keras kesimpulan tersebut.

Latar belakang Pillay itu menjadi bagian dari konteks perdebatan yang disampaikan Trump, yang secara terbuka mempertanyakan sosok penerima penghargaan dan mengkritik keputusan Komite Nobel.

Di sisi lain, kritik Trump terhadap penghargaan tersebut tidak mengubah fakta bahwa keputusan penerima Nobel merupakan kewenangan lembaga pemberi penghargaan. Penilaian terhadap kontribusi Pillay perlu dibedakan dari pendapat politik yang disampaikan Trump.

Putin Nyatakan Rusia Siap Bantu Iran Akhiri Konflik

Sementara polemik Nobel Perdamaian berlangsung di Amerika Serikat, Putin menyatakan Rusia siap melakukan segala upaya untuk membantu Iran menyelesaikan konflik regional.

Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Turkmenbashi, Turkmenistan, pada Kamis.

Menurut keterangan Kremlin, Putin menilai Teheran telah melakukan upaya konkret untuk mengakhiri konflik dan mengajukan proposal baru demi mencapai penyelesaian damai.

Putin juga menyoroti perkembangan hubungan bilateral kedua negara di bawah perjanjian kemitraan strategis komprehensif yang ditandatangani pada awal 2025.

Ia menyebut perdagangan Rusia dan Iran tumbuh lebih dari 21 persen pada tahun sebelumnya. Tren pertumbuhan tersebut, menurutnya, berlanjut selama tujuh bulan pertama tahun ini. Kedua negara juga terus mengembangkan pertukaran di bidang kemanusiaan.

Pezeshkian menyampaikan apresiasi atas dukungan Rusia dan mengatakan hubungan kedua negara berkembang dalam bidang perdagangan, ekonomi, serta kemanusiaan.

Presiden Iran itu menegaskan bahwa Teheran ingin mengakhiri perang sesegera mungkin, dengan tetap memastikan hak-hak Iran dihormati.

Iran dan Amerika Serikat Bertukar Proposal

Dalam pertemuan tersebut, Pezeshkian mengatakan Iran telah bertukar inisiatif dengan Amerika Serikat dan merevisi proposal yang diajukan Washington.

Ia menyebut kedua pihak akan melanjutkan pembahasan melalui para mediator setelah inisiatif tersebut difinalisasi.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik masih berlangsung. Namun, kesiapan Rusia membantu Iran tidak dengan sendirinya berarti Moskow telah menjadi mediator resmi dalam perundingan antara Teheran dan Washington.

Perkembangan selanjutnya bergantung pada pembahasan proposal, sikap kedua pihak yang berkonflik, serta langkah diplomatik yang ditempuh melalui mediator.

Sementara itu, polemik Trump atas Nobel Perdamaian memperlihatkan ketidakpuasannya terhadap keputusan Komite Nobel. Di jalur yang berbeda, Rusia dan Iran terus membahas hubungan bilateral sekaligus peluang penyelesaian konflik melalui diplomasi.

Kedua peristiwa tersebut sama-sama berkaitan dengan isu perdamaian internasional, tetapi tidak ada informasi yang menunjukkan bahwa polemik Nobel Perdamaian dan upaya diplomatik Iran memiliki hubungan langsung.

Baca Juga: Persidangan Ijazah Gibran Berlanjut di Media Sosial, Apa Dampaknya?