Lensakabar.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik dibuka menguat pada perdagangan Rabu (30/9/2026), memberikan sentimen positif bagi pasar regional setelah Wall Street ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya. Di tengah kondisi tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan memiliki peluang untuk kembali menguat atau rebound.

Dikutip dari Investor.id, CGS International Sekuritas Indonesia memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang support 6.060-6.000 dan resistance 6.180-6.245. Namun, pergerakan indeks masih akan menghadapi sejumlah sentimen dari dalam maupun luar negeri.

Penguatan harga sejumlah komoditas mineral logam menjadi salah satu faktor yang berpotensi menopang IHSG. Sementara itu, aksi jual bersih investor asing, pelemahan rupiah terhadap dolar AS, serta koreksi bursa saham Amerika Serikat masih menjadi tekanan bagi pasar domestik.

Bursa Asia Menguat, Nikkei Naik 1,4 Persen

Penguatan pasar saham Asia terjadi setelah Wall Street melemah dalam perdagangan yang berlangsung fluktuatif. Indeks Nikkei 225 Jepang menjadi salah satu indeks yang mencatat kenaikan cukup signifikan dengan penguatan 1,4 persen.

Indeks Topix juga naik 0,65 persen. Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan dan indeks saham kapitalisasi kecil masing-masing menguat lebih dari 1 persen.

Indeks ASX 200 Australia turut bergerak positif meski kenaikannya relatif tipis.

Pergerakan bursa Asia tersebut berlangsung ketika pasar global masih mencermati lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Yield Treasury AS tenor 30 tahun sempat menembus 5,6 persen pada Selasa. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak Juni 2002. Sementara yield tenor 10 tahun mendekati 5,3 persen dan mencapai level tertinggi sejak 2007.

Kenaikan yield tersebut ikut memberikan tekanan terhadap saham-saham perbankan Amerika Serikat. JP Morgan Chase turun 0,48 persen, Morgan Stanley melemah 0,45 persen, sedangkan Bank of America terkoreksi 0,92 persen.

Baca Juga: BI Perkuat Konektivitas Ekonomi Digital di FEKDI x IFSE 2026

IHSG Dibayangi Sentimen Global dan Domestik

Di pasar domestik, prospek IHSG tidak hanya dipengaruhi pergerakan bursa Asia. Sejumlah sentimen negatif masih berpotensi membatasi ruang penguatan indeks.

CGS International Sekuritas Indonesia mencatat aksi jual bersih investor asing masih berlangsung. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS juga menjadi perhatian pelaku pasar.

Selain itu, koreksi Wall Street setelah kenaikan yield obligasi pemerintah AS dapat memberikan sentimen eksternal terhadap pasar saham Indonesia.

Di sisi lain, kenaikan harga beberapa komoditas mineral logam berpotensi menjadi penopang bagi pergerakan IHSG.

Kombinasi berbagai sentimen tersebut membuat IHSG diperkirakan bergerak bervariasi dengan kecenderungan rebound pada perdagangan Rabu.

Level support IHSG diproyeksikan berada di 6.060-6.000, sedangkan resistance berada di 6.180-6.245.

Enam Saham Pilihan untuk Trading

Seiring proyeksi IHSG yang berpeluang rebound, CGS International Sekuritas Indonesia merekomendasikan enam saham untuk aktivitas trading harian.

Enam saham tersebut terdiri dari:

  1. TINS - PT Timah Tbk

  2. ANTM - PT Aneka Tambang Tbk

  3. BBRI - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk

  4. MAPA - PT Map Aktif Adiperkasa Tbk

  5. HRTA - PT Hartadinata Abadi Tbk

  6. SMGR - PT Semen Indonesia Tbk

Daftar tersebut merupakan pilihan trading harian dari CGS International Sekuritas Indonesia untuk perdagangan Rabu (30/9/2026).

Yield AS dan Kebijakan The Fed Jadi Perhatian

Selain pergerakan saham Asia, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan The Federal Reserve atau The Fed.

Presiden Federal Reserve New York John Williams mengatakan tidak ada urgensi untuk mengambil keputusan terburu-buru dan masih terdapat waktu untuk mengumpulkan informasi sebelum pertemuan The Fed pada Oktober.

Pernyataan tersebut turut meredakan kekhawatiran mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga bank sentral AS dalam waktu dekat.

Ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed juga berubah. Alat FedWatch milik CME Group menunjukkan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan depan berada di 49 persen, turun dari 71 persen pada Senin.

Pelaku pasar juga akan mencermati data Personal Consumption Expenditures (PCE) Agustus yang menjadi salah satu indikator inflasi penting bagi The Fed.

Ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan indikator tersebut meningkat 0,3 persen pada Agustus, dengan laju inflasi tahunan diperkirakan mencapai 3,7 persen.

IHSG Menghadapi Perdagangan Terakhir September

Perdagangan Rabu (30/9/2026) sekaligus menjadi hari terakhir September dan penghujung kuartal ketiga 2026.

Kinerja bursa saham Amerika Serikat sepanjang September tercatat beragam. S&P 500 dan Dow Jones mengalami penurunan, sedangkan Nasdaq mencatat kenaikan lebih dari 1 persen.

Untuk kinerja kuartal ketiga, S&P 500 dan Nasdaq masing-masing naik sekitar 2 persen. Sementara Dow Jones turun hampir 2 persen.

Pergerakan pasar global tersebut menjadi salah satu faktor yang akan dicermati investor bersamaan dengan penguatan bursa Asia, pergerakan rupiah, arus dana asing, dan harga komoditas.

Dengan berbagai sentimen tersebut, IHSG memiliki ruang untuk rebound, tetapi tekanan dari pasar global dan domestik masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam perdagangan hari ini.