Lensakabar.com, Jakarta - Lonjakan harga gas Eropa hingga mencatat kenaikan 200,27% sepanjang 2026 menjadi salah satu gambaran tekanan yang tengah melanda pasar energi global. Di Indonesia, persoalan energi juga membayangi sektor manufaktur setelah keterbatasan pasokan dan mahalnya harga gas bumi kembali menekan industri keramik serta mengancam rencana ekspansi senilai Rp12 triliun.

Kontrak berjangka gas Dutch Title Transfer Facility (TTF), yang menjadi acuan harga gas Eropa, menyentuh €86,50 per megawatt hour (MWh) pada perdagangan Selasa (13/10/2026). Kenaikan tersebut berlangsung selama enam hari berturut-turut, dipengaruhi ketegangan geopolitik, rendahnya cadangan gas, serta prakiraan cuaca dingin di Eropa Tengah.

Tekanan di pasar internasional tersebut berlangsung ketika pelaku industri Indonesia masih menghadapi persoalan mendasar terkait keterjangkauan dan kepastian pasokan gas untuk kegiatan produksi.

Harga Gas Eropa Naik di Tengah Ketidakpastian Pasokan

Harga gas Eropa telah meningkat sekitar 170% dari posisi €32 per MWh pada malam sebelum perang Iran pecah pada akhir Februari 2026. Sementara itu, data Trading Economics yang diakses pada 13 Oktober 2026 mencatat kenaikan harga gas Eropa sebesar 200,27% secara year-to-date (YTD).

Perbedaan persentase tersebut mengacu pada basis perhitungan yang berbeda. Namun, keduanya menggambarkan besarnya penguatan harga gas sepanjang periode yang dicatat.

Kenaikan harga dipengaruhi kombinasi ketegangan geopolitik dan kondisi pasokan. Prakiraan penurunan suhu di Eropa Tengah selama dua pekan ke depan diperkirakan meningkatkan kebutuhan gas untuk pemanas rumah tangga. Pada saat bersamaan, kecepatan angin yang rendah berpotensi membatasi produksi listrik dari turbin angin.

Cadangan gas Eropa juga menjadi perhatian. Fasilitas penyimpanan gas di kawasan tersebut dilaporkan terisi kurang dari 74%, jauh di bawah tingkat sekitar 90% yang biasanya tercapai pada periode ini.

Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank, menilai kondisi penyimpanan yang rendah membuat pasar semakin sensitif terhadap perubahan suhu.

"Sayangnya, hanya butuh sedikit penurunan suhu untuk mengangkat harga, yang menyoroti betapa menantangnya musim dingin mendatang," ujarnya.

Selain persoalan cuaca, perang Iran turut memperketat pasar gas alam cair (LNG) global. Secara historis, sekitar seperlima pasokan LNG dunia diangkut dari kawasan Teluk melalui Selat Hormuz, yang kini menjadi zona konflik aktif.

Konflik Rusia-Ukraina Menambah Tekanan Pasar Energi

Ketidakpastian geopolitik juga datang dari hubungan Rusia dan Ukraina. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu (11/10/2026) mengklaim melalui platform Truth Social bahwa kedua negara telah menyepakati gencatan senjata energi.

Klaim itu muncul dua hari setelah Trump mengumumkan kesepakatan dengan Moskow untuk mengimpor tambahan pasokan diesel Rusia. Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada Senin (12/10/2026) memberikan sinyal bahwa serangan Kyiv terhadap kilang minyak Rusia akan terus berlanjut.

Perkembangan tersebut membuat prospek pasokan bahan bakar masih dibayangi ketidakpastian, meskipun ada pengumuman tambahan pasokan diesel.

Mengutip Reuters, harga kontrak berjangka gasoil ICE turun 2,3% menjadi US$1.449 per ton pada Senin (12/10/2026), setelah pengumuman tambahan pasokan diesel Rusia lebih dari 300.000 ton. Penurunan harga tersebut belum menghilangkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan akibat masalah operasional kilang Rusia.

Risiko di Timur Tengah juga menjadi perhatian pasar minyak. Materi yang mengutip Reuters menyebut serangan kelompok Houthi terhadap bandara internasional Riyadh di Arab Saudi serta serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz menambah kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan.

Di sisi lain, gangguan produksi minyak di Teluk Meksiko akibat Badai Isaias turut menambah risiko pasokan.

Kepala Strategi Investasi Saxo di Singapura, Charu Chanana, menilai kenaikan harga minyak kembali menjadi perhatian karena berpotensi memperbesar tekanan inflasi dan mempertahankan imbal hasil obligasi pada level tinggi.

Baca Juga: Hilirisasi Rp180 Triliun Diluncurkan Prabowo, Investasi Rp13.000 Triliun Dibidik

Batu Bara dan CPO Ikut Menguat Sepanjang 2026

Dikutip dari CNBC Indonesia, Tekanan energi tidak hanya terlihat pada harga gas dan minyak. Data Trading Economics per 13 Oktober 2026 menunjukkan sejumlah komoditas energi dan bahan baku turut mencatat kenaikan sejak awal tahun.

Harga gas Jerman naik 177,32% secara YTD, sedangkan minyak mentah Brent menguat 72,93% dan West Texas Intermediate (WTI) naik 60,83%.

Di sektor batu bara, harga batu bara termal meningkat 38,93%, sementara batu bara kokas naik 22,20%. Harga CPO juga menguat 14,49% sepanjang tahun berjalan.

Harga batu bara dunia tercatat mencapai US$149,35 per ton. Di China, harga batu bara untuk pembangkit listrik menyentuh CNY1.004 per ton pada Senin (12/10/2026), tertinggi dalam tiga tahun.

Sementara itu, stok batu bara pembangkit listrik India turun dari 18,93 juta ton pada 29 September menjadi 18,21 juta ton pada 10 Oktober 2026. Penurunan tersebut terjadi di tengah tingginya kebutuhan listrik dan berkurangnya produksi pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Indonesia juga menghadapi kendala distribusi batu bara akibat surutnya Sungai Barito di Kalimantan. Kondisi tersebut memaksa sejumlah tongkang mengurangi muatan dari 7.500–10.000 ton menjadi sekitar 3.000–4.000 ton.

Pemerintah menargetkan produksi batu bara 2026 sekitar 600 juta ton, turun dari realisasi 817,48 juta ton pada 2025. Meski demikian, produksi tahun ini diperkirakan dapat mencapai 720 juta ton.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut Indonesia memasok 43% dari sekitar 1,3 miliar ton perdagangan batu bara dunia. Ia juga menyatakan bahwa nilai transaksi dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) meningkat meskipun volume produksi 2026 menurun.

Untuk CPO, harga masih menguat secara tahunan meskipun mengalami koreksi dari MYR5.018 per ton pada 21 Agustus menjadi MYR4.598 per ton pada 13 Oktober 2026. Tingginya harga diesel global turut meningkatkan daya tarik biodiesel berbahan baku minyak sawit sebagai alternatif bahan bakar.

Industri Keramik Indonesia Hadapi Tekanan Harga Gas

Di tengah kenaikan harga berbagai komoditas energi, persoalan yang dihadapi industri dalam negeri tidak hanya berkaitan dengan pergerakan harga internasional. Kepastian pasokan dan keterjangkauan gas bumi untuk kebutuhan produksi juga menjadi tuntutan pelaku usaha.

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) mencatat sekitar 1.500 pekerja terdampak akibat persoalan yang menekan sektor tersebut. Selain itu, rencana ekspansi industri keramik senilai Rp12 triliun terancam tertunda.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendesak pemerintah membenahi distribusi dan harga gas bumi agar pelaku industri dapat mempertahankan produksi, daya saing, serta penyerapan tenaga kerja.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian Saleh Husin menyampaikan bahwa pembenahan perlu mencakup industri yang telah beroperasi, bukan hanya upaya menarik investasi baru.

"Hal terpenting bukan hanya menarik investor baru, melainkan juga merawat industri yang sudah beroperasi di dalam negeri," ujar Saleh di Jakarta, Selasa (13/10/2026).

Saleh menilai persoalan pasokan dan harga gas telah berlangsung selama bertahun-tahun tanpa penyelesaian menyeluruh. Ia meminta pemerintah mengevaluasi prioritas pemanfaatan gas nasional, termasuk mempertimbangkan pemenuhan kebutuhan domestik dari sebagian volume ekspor dengan tetap memperhitungkan kontrak dan regulasi yang berlaku.

Ketua ASAKI Edy Suyanto mengatakan pembatasan pasokan gas kembali menekan industri keramik sejak pertengahan September 2026. Kondisi tersebut terjadi meskipun pelaku industri sebelumnya berharap Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 281.K/2026 memberikan kepastian pasokan dan harga.

"Regulasi Kepmen ESDM 281.K/2026 sudah baik, tetapi implementasinya tidak berjalan sesuai harapan," tegas Edy.

Harga Gas Industri Masih Menjadi Persoalan

ASAKI memperkirakan harga gas rata-rata dapat mencapai US$8–8,5 per million British thermal units (MMBTU) melalui kombinasi skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) dan biaya regasifikasi LNG.

Namun, akses terhadap gas berskema HGBT disebut baru mencakup sekitar 40% dari kebutuhan industri. Akibatnya, harga rata-rata gas industri di Jawa bagian barat mencapai US$12 per MMBTU, sedangkan di wilayah timur sekitar US$9 per MMBTU.

Kondisi tersebut menjadi persoalan bagi industri yang membutuhkan kepastian pasokan dan biaya energi untuk menjalankan kegiatan produksi. Bagi sektor keramik, tekanan gas juga berlangsung bersamaan dengan ketidakpastian rencana ekspansi dan dampaknya terhadap tenaga kerja.

Kadin dan ASAKI meminta pembenahan kebijakan serta pelaksanaan distribusi gas agar kebutuhan industri dapat dipenuhi dengan harga yang lebih terjangkau.

Perkembangan harga energi global masih dipengaruhi konflik geopolitik, kondisi cuaca, serta ketersediaan pasokan. Di dalam negeri, perhatian pelaku usaha tertuju pada langkah pemerintah mengatasi keterbatasan distribusi dan tingginya harga gas industri agar kegiatan produksi serta rencana investasi dapat berjalan sesuai kebutuhan.