Lensakabar.com, Paris - Gelombang demonstrasi pelajar di Prancis kembali diwarnai bentrokan. Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat 488 orang ditangkap dan 43 anggota aparat keamanan terluka dalam aksi yang berlangsung pada Selasa (6/10/2026).

Aksi tersebut merupakan bagian dari demonstrasi yang telah berlangsung sejak akhir September. Puluhan ribu orang turun ke jalan untuk menyuarakan persoalan pendidikan, mulai dari kekurangan guru hingga kondisi fisik sekolah yang dinilai buruk.

Demo Pelajar Prancis Berujung Bentrokan

Sebagian besar demonstrasi pada Selasa berlangsung secara damai. Namun, bentrokan terjadi secara sporadis di sejumlah wilayah.

Menurut laporan AFP, beberapa pengunjuk rasa melempar benda ke arah aparat keamanan. Polisi kemudian merespons dengan menggunakan gas air mata.

Situasi sempat memanas di Place de la Nation, Paris timur. Menjelang larut malam, demonstran dan aparat terlibat dalam situasi saling berhadapan. Aksi utama di ibu kota Prancis tersebut mulai mereda, tetapi sebagian massa masih bertahan dan belum membubarkan diri.

Jumlah penangkapan dalam rangkaian aksi tersebut juga terus bertambah. Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat setidaknya 6.547 orang telah ditangkap sejak demonstrasi dimulai pekan lalu.

Pada Selasa, pemerintah memperkirakan sekitar 256.000 orang mengikuti aksi demonstrasi di berbagai wilayah Prancis.

Pelajar Protes Kekurangan Guru hingga Gedung Sekolah

Demonstrasi yang melibatkan pelajar SMA tersebut berawal dari sejumlah persoalan yang mereka hadapi di lingkungan pendidikan.

Para siswa menyoroti kekurangan tenaga pengajar, jadwal pelajaran yang terlalu padat, serta kondisi sejumlah ruang kelas dan bangunan sekolah yang mengalami kerusakan.

Mereka juga mempersoalkan kondisi bangunan sekolah yang dinilai tidak memadai untuk menghadapi kenaikan suhu.

Sejak akhir September, para pelajar telah melakukan aksi pemblokiran pintu masuk ratusan sekolah menengah atas. Sebagian besar peserta merupakan siswa berusia sekitar 15 hingga 17 tahun.

Menteri Pendidikan Prancis Édouard Geffray menyebut sekitar 735 lembaga pendidikan terdampak aksi demonstrasi tersebut.

Perkembangan aksi kemudian menarik perhatian serikat pekerja yang berencana ikut turun ke jalan bersama para pelajar.

PM Prancis Bantah Polisi Diperintahkan Bertindak Represif

Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu menegaskan pemerintah tidak akan mentoleransi kekerasan yang terjadi selama demonstrasi.

Dalam pernyataannya di hadapan parlemen, Lecornu menilai tindakan seperti membakar gedung sekolah maupun menyerang guru tidak akan menyelesaikan persoalan pendidikan.

"Membakar gedung sekolah tidak memperbaiki kondisi bangunan sekolah. Menyerang guru tidak membantu menggantikan posisi guru," kata Lecornu, dilansir AFP, Selasa (6/10).

Lecornu juga membantah tudingan bahwa pemerintah memerintahkan aparat untuk melakukan tindakan represif terhadap demonstran.

"Sebuah kebohongan," tegasnya.

Namun, France Unbowed (LFI) bersama sejumlah kelompok hak asasi manusia menilai tindakan polisi terhadap demonstran tidak proporsional. Kritik tersebut juga muncul setelah sejumlah siswa dilaporkan mengalami cedera.

Lecornu mengakui kemungkinan terjadinya kecelakaan dalam rangkaian aksi tersebut. Namun, dia menuduh LFI memiliki agenda politik untuk mendorong negara menuju kekacauan menjelang pemilihan presiden Prancis 2027.

Pemerintah kemudian memutuskan kegiatan belajar-mengajar formal di tingkat SMA ditiadakan selama sisa pekan tersebut. Waktu itu akan digunakan kepala sekolah, guru, dan siswa untuk melakukan pembahasan internal mengenai kondisi sekolah masing-masing.

Baca Juga: Trump Sebut Senang Akur dengan Xi Jinping dan Kim Jong Un

Trump Kaitkan Demo dengan Migrasi dan Islam

Gelombang demonstrasi di Prancis juga mendapat perhatian dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia mengaitkan aksi tersebut dengan persoalan migrasi dan Islam.

Dalam unggahan di Truth Social pada Selasa (6/10), Trump menyebut demonstrasi di Prancis sebagai dampak dari migrasi massal yang menurutnya telah tidak terkendali.

Ia juga menyatakan aksi tersebut berkaitan dengan Islam yang disebutnya ingin mengambil alih Prancis.

Namun, Trump tidak memberikan bukti untuk mendukung klaim tersebut. Hingga kini, tidak ditemukan kaitan antara gerakan protes pelajar di Prancis dengan tuntutan terkait agama atau identitas.

Komentar Trump muncul ketika sejumlah tokoh yang berada di lingkaran gerakan Make America Great Again (MAGA) turut menyoroti kerusuhan di Prancis. Sejumlah komentator sayap kanan Amerika Serikat membagikan video mengenai situasi demonstrasi dan menggunakannya dalam narasi mengenai imigrasi serta politik Barat.

Salah satunya Glenn Beck yang menyebut kerusuhan tersebut sebagai peringatan bagi negara-negara Barat lainnya. Komentator sayap kanan Dave Rubin juga membagikan rekaman dari Prancis kepada pengikutnya di media sosial.

Sementara itu, inti tuntutan demonstrasi di Prancis tetap berkaitan dengan kondisi pendidikan. Pemerintah menghadapi tekanan untuk menangani persoalan yang disuarakan pelajar, sementara aparat masih menghadapi situasi keamanan dalam aksi yang terus berlangsung.

Dengan kegiatan belajar-mengajar formal di SMA dihentikan hingga akhir pekan, perhatian berikutnya tertuju pada hasil pembahasan internal antara siswa, guru, dan pihak sekolah serta perkembangan demonstrasi di sejumlah wilayah Prancis.