Lensakabar.com, Bandung - Pembangunan halte Bus Rapid Transit (BRT) di depan Pasar Baru Trade Center mulai mengubah wajah Jalan Oto Iskandar Dinata (Otista), Kota Bandung. Pantauan lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2026, memperlihatkan dua kerangka halte berdiri berurutan di tengah badan jalan, bersamaan dengan penataan trotoar dan pengerjaan infrastruktur utilitas di sepanjang koridor menuju kawasan Tegallega.

Perubahan tersebut tidak hanya menyentuh fasilitas transportasi massal. Sejumlah ruas pedestrian juga mengalami pembenahan melalui pengecoran beton, pemasangan ubin pemandu bagi penyandang disabilitas tunanetra, serta penyiapan jalur instalasi untuk penerangan trotoar. Bekas galian di bahu jalan turut terlihat sebagai bagian dari penataan jaringan utilitas bawah tanah.

Koridor ini memiliki karakter yang berbeda dari jalan perkotaan biasa. Kawasan Pasar Baru merupakan pusat aktivitas perdagangan, sementara ruas Jalan Otista dan jalur yang terhubung ke Cibadak hingga Tegallega dilintasi berbagai aktivitas warga, kendaraan, pedagang, dan angkutan umum.

Karena itu, perkembangan fisik proyek tersebut berkaitan langsung dengan persoalan mobilitas di kawasan perdagangan. Penempatan halte di tengah jalan, misalnya, akan menjadi salah satu aspek penting dalam penyesuaian arus kendaraan dan akses menuju pertokoan ketika fasilitas transportasi massal tersebut beroperasi.

Halte BRT di Depan Pasar Baru Mulai Terlihat

Penelusuran dimulai dari kawasan Jalan Suniaraja yang terhubung dengan gerbang utara Jalan Otista. Tepat di depan gerbang utama Pasar Baru Trade Center, dua unit kerangka halte BRT tampak dibangun berurutan di bagian tengah jalan satu arah.

Posisi tersebut berbeda dari halte konvensional yang umumnya berada di tepi jalan. Struktur halte yang ditempatkan di tengah badan jalan memperlihatkan pola pembangunan koridor BRT yang juga terlihat pada sejumlah titik lain, seperti kawasan Cicadas dan Rajawali Timur.

Di sisi kiri dan kanan jalan, deretan toko masih tertutup saat pantauan berlangsung. Sejumlah pedagang kaki lima mulai bersiap menggelar lapak, memperlihatkan aktivitas ekonomi yang tetap menjadi bagian dari keseharian kawasan tersebut.

Kondisi ini menempatkan pembangunan halte di tengah ruang yang memiliki fungsi beragam. Jalan digunakan untuk pergerakan kendaraan, sementara sisi-sisinya menjadi akses menuju pertokoan dan tempat aktivitas perdagangan.

Pengaturan lalu lintas menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan seiring berlanjutnya pembangunan. Posisi halte di tengah jalan berkaitan dengan ruang gerak kendaraan pribadi, akses kendaraan lokal, serta aktivitas bongkar muat barang yang mendukung kegiatan perdagangan Pasar Baru.

Bagaimana pengaturan lajur dan akses kendaraan nantinya diterapkan akan menentukan hubungan antara layanan BRT dan kegiatan ekonomi di sekitarnya. Hal tersebut menjadi bagian penting dari penataan koridor yang tidak hanya berfungsi sebagai jalur transportasi, tetapi juga sebagai kawasan perdagangan.

Trotoar Jalan Otista Berubah, Fasilitas Pejalan Kaki Ditata

Perubahan fisik terlihat pula pada sisi kanan Jalan Otista yang ditelusuri ke arah selatan menuju Tegallega. Jalur ini memperlihatkan suasana pagi yang diwarnai aktivitas warga bersiap berdagang, lalu-lalang becak motor, serta kendaraan yang melintas. Beberapa pengendara juga terlihat bergerak melawan arah.

Di sepanjang ruas tersebut, trotoar mengalami pembenahan melalui pengerjaan beton yang dipotong dan dirapikan kembali. Permukaan pedestrian ditata dengan pola yang lebih teratur, sementara ubin pemandu atau guidance block dipasang untuk membantu mobilitas penyandang disabilitas tunanetra.

Pemasangan fasilitas pemandu menjadi bagian penting dari fungsi trotoar sebagai ruang berjalan kaki. Keberadaan jalur tersebut perlu didukung permukaan yang nyaman dan akses yang tidak terhalang agar dapat digunakan sesuai peruntukannya.

Di beberapa titik, terlihat pula instalasi pipa yang disiapkan untuk kebutuhan penerangan trotoar. Infrastruktur tersebut diproyeksikan menjadi bagian dari penataan lampu pedestrian di sepanjang koridor.

Selain itu, bekas galian di bahu jalan menunjukkan adanya pekerjaan utilitas bawah tanah. Penataan ini berkaitan dengan upaya memindahkan jaringan kabel udara, termasuk kabel fiber optik, ke dalam sistem bawah tanah agar jaringan utilitas tidak lagi mendominasi ruang udara di sepanjang jalan.

Pekerjaan trotoar dan utilitas tersebut membuat perubahan koridor Otista tidak hanya terlihat dari pembangunan halte. Ruang pejalan kaki, jaringan pendukung, dan elemen penerangan juga menjadi bagian dari pembenahan fisik yang berlangsung di kawasan itu.

Baca Juga: Sampah dan Bangunan Liar Jadi PR Bandung, Herman Minta Gerak Masif

Dari Otista ke Cibadak, Aktivitas Perdagangan Tetap Menjadi Ciri Kawasan

Perjalanan menyusuri koridor selatan Bandung juga melewati sejumlah kawasan yang memiliki karakter perdagangan dan sejarah tersendiri. Di antaranya Jalan Khalifah Apo yang dikenal sebagai sentra pecah belah dan elektronik, kawasan makam Bupati Bandung serta pahlawan nasional Dewi Sartika, hingga perempatan Jalan Pungkur yang memiliki aktivitas perdagangan batu akik dan jajanan pasar.

Rangkaian kawasan tersebut memperlihatkan bahwa penataan jalan berlangsung di lingkungan perkotaan yang memiliki fungsi beragam. Selain menjadi jalur pergerakan kendaraan, ruas-ruas tersebut terhubung dengan pertokoan, pusat aktivitas warga, serta kawasan yang menyimpan jejak sejarah Bandung.

Dari jalur tersebut, penelusuran berlanjut ke Jalan Cibadak. Kawasan ini dikenal sebagai sentra penjualan mainan, alat tulis kantor, produk plastik, serta tujuan kuliner malam.

Pada pagi hari, suasana Jalan Cibadak relatif lengang. Deretan toko masih banyak yang tutup, sementara badan jalan terlihat bersih dari tumpukan sampah. Ornamen lampu gantung dengan bentuk artistik menghiasi jalur tersebut, disertai saluran drainase dan control box yang tertata di sepanjang bahu jalan.

Meski demikian, beberapa bagian permukaan aspal dan lantai trotoar masih menyisakan noda minyak atau bekas aktivitas perdagangan. Kondisi tersebut terlihat di tengah penataan elemen jalan yang sudah dilakukan, sehingga kebersihan permukaan menjadi salah satu aspek yang turut memengaruhi tampilan kawasan.

Jalan Cibadak terhubung dengan kawasan Jalan Kelenteng dan Astana Anyar. Keterhubungan tersebut menempatkannya sebagai bagian dari jaringan jalan yang menghubungkan sejumlah lingkungan perdagangan dan permukiman di Bandung.

Baca Juga: Cimahi & KBB Jadi Titik Operasi Lodaya 2026: Cara Polisi Atasi Kucing-Kucingan?

Peran Vital Terminal Tegallega: Menghubungkan Mobilitas Bandung Raya

Di bagian akhir penelusuran, aktivitas berlanjut ke kawasan Lapangan dan Terminal Tegallega. Di dalam terminal, layanan angkutan umum terpantau berjalan seperti biasa, dengan sejumlah kendaraan menunggu penumpang.

Armada yang terlihat antara lain angkutan kota berwarna kuning dengan trayek Tegalega–Banjaran serta kendaraan jenis elf yang melayani perjalanan menuju Pangalengan.

Keberadaan angkutan tersebut memperlihatkan fungsi Terminal Tegallega dalam mendukung perjalanan warga yang bergerak antara kawasan selatan Bandung, wilayah Kabupaten Bandung, dan pusat kota.

Aktivitas terminal menjadi bagian yang relevan dalam melihat kebutuhan transportasi di kawasan selatan. Mobilitas warga tidak hanya bergantung pada satu jenis kendaraan, tetapi juga melibatkan angkutan perkotaan dan layanan regional yang menghubungkan berbagai tujuan perjalanan.

Dalam konteks pengembangan transportasi massal, hubungan antarmoda menjadi salah satu aspek yang berkaitan dengan kemudahan perjalanan. Akses menuju halte, keterhubungan dengan angkutan lain, dan kelancaran pergerakan penumpang merupakan bagian dari kebutuhan mobilitas di kawasan perkotaan.

Penataan Koridor Menghadirkan Tantangan Mobilitas dan Akses Perdagangan

Pantauan pada 25 Oktober 2026 memperlihatkan sejumlah perubahan fisik di sepanjang rute Pasar Baru, Jalan Otista, Cibadak, hingga Tegallega. Pembangunan halte BRT berjalan beriringan dengan penataan trotoar, pemasangan ubin pemandu, persiapan instalasi penerangan, dan pengerjaan jaringan utilitas bawah tanah.

Pada saat yang sama, kawasan yang ditata tetap menjalankan fungsi sehari-hari sebagai ruang perdagangan dan pergerakan warga. Aktivitas pedagang, kendaraan lokal, serta angkutan umum menjadi bagian dari kondisi lapangan yang menyertai perubahan infrastruktur tersebut.

Perkembangan berikutnya akan berkaitan dengan bagaimana fasilitas yang dibangun dapat terhubung dengan kebutuhan pengguna jalan. Halte BRT memerlukan pengaturan akses dan pergerakan kendaraan, sementara trotoar perlu mendukung pejalan kaki, termasuk penyandang disabilitas.

Bagi kawasan perdagangan seperti Pasar Baru dan Cibadak, penataan ruang jalan juga bersinggungan dengan akses menuju pertokoan serta kegiatan distribusi barang. Sementara di Tegallega, keberadaan angkutan kota dan kendaraan regional menunjukkan pentingnya keterhubungan layanan transportasi bagi warga yang melakukan perjalanan lintas wilayah.

Perubahan fisik koridor selatan Bandung kini terlihat melalui pembangunan fasilitas transportasi dan pembenahan ruang jalan. Perkembangan selanjutnya akan menentukan bagaimana halte, trotoar, utilitas, dan layanan angkutan dapat berfungsi sebagai bagian dari sistem mobilitas perkotaan yang saling terhubung.