Lensakabar.com, Bandung - Kebiasaan menonton sebuah konten hingga selesai dapat memengaruhi rekomendasi yang muncul berikutnya di media sosial. Ketika konten yang menarik perhatian ternyata berisi hoaks, disinformasi, atau promosi judi online (judol), pengguna berpotensi terus terpapar materi serupa melalui video, foto, hingga iklan yang muncul di beranda.

Founder Viralinaja.id sekaligus penulis independen, Agus Aripin, menyoroti fenomena tersebut saat berdiskusi di Bandung. Ia menilai mekanisme rekomendasi media sosial memiliki sisi gelap ketika perilaku pengguna membuat suatu topik terus muncul, meskipun pengguna belum tentu mempercayai atau menyetujui informasi yang ditontonnya.

“Jawabannya karena algoritma. Ya, itu adalah hasil kerja algoritma. Mirisnya, algoritma semua platform media sosial saat ini hampir sama,” kata Agus Aripin.

Menurut dia, persoalannya bukan sekadar konten apa yang disukai pengguna, melainkan bagaimana kebiasaan menonton dapat memengaruhi jenis informasi yang kembali disuguhkan oleh sistem rekomendasi.

Pengguna yang menonton sebuah video karena penasaran, misalnya, belum tentu mendukung isi video tersebut. Namun, durasi menonton dan bentuk interaksi lainnya dapat menjadi sinyal bagi platform untuk merekomendasikan konten dengan topik serupa.

Situasi ini menjadi persoalan ketika informasi yang terus muncul tidak terverifikasi atau sengaja dirancang untuk memancing perhatian. Pengulangan konten berpotensi membuat pengguna semakin sering bersentuhan dengan narasi yang sama, bahkan ikut menyebarkannya.

Algoritma Media Sosial dan Pola Konsumsi Informasi

Agus Aripin menjelaskan bahwa sistem rekomendasi dapat membaca sejumlah perilaku pengguna, termasuk durasi menonton dan interaksi terhadap konten. Sinyal tersebut digunakan bersama faktor lain untuk menentukan materi yang berpeluang menarik perhatian pengguna berikutnya.

“Jika audiens menonton lama atau audiens bertahan di satu konten dengan retensi lama, yakinlah bahwa konten-konten berikutnya yang akan disuguhkan kepada Anda adalah dengan topik yang sama,” ujarnya.

Mekanisme rekomendasi sebenarnya dapat membantu pengguna menemukan informasi sesuai minat. Orang yang sering menonton berita, misalnya, bisa mendapatkan lebih banyak rekomendasi berita. Hal serupa berlaku bagi pengguna yang menikmati podcast edukasi, hiburan, atau konten olahraga.

Namun, sistem rekomendasi tidak otomatis mampu memastikan bahwa semua konten yang menarik perhatian pengguna memiliki kualitas informasi yang baik. Konten dengan klaim mengejutkan atau judul provokatif juga bisa mendapatkan perhatian, meskipun kebenarannya belum dipastikan.

Agus Aripin menilai perubahan perilaku konsumsi informasi perlu diperhatikan ketika pengguna terus menerima materi dengan tema serupa.

Sebelumnya, pengguna mungkin menemukan informasi dari berbagai sumber dengan sudut pandang berbeda. Dalam lingkungan media sosial yang dipersonalisasi, informasi yang muncul di beranda dapat semakin dipengaruhi oleh kebiasaan masing-masing pengguna.

Kondisi tersebut tidak berarti semua platform menggunakan algoritma yang identik. Setiap layanan memiliki sistem rekomendasi dan parameter berbeda. Namun, penggunaan perilaku pengguna untuk menentukan relevansi konten menjadi salah satu karakteristik penting dalam distribusi informasi digital.

Baca juga: Bukannya Cuan Malah Sepi! Hindari 7 Dosa Besar Pemula FB Pro Ini

Hoaks Berulang Berpotensi Memengaruhi Persepsi Pengguna

Salah satu situasi yang disoroti Agus Aripin adalah ketika pengguna menemukan konten hoaks, kemudian bertahan menontonnya karena ingin mengetahui kebenaran atau menunggu klarifikasi.

Pengguna bisa saja menyelesaikan video karena penasaran, bukan karena mempercayai informasi di dalamnya. Akan tetapi, interaksi tersebut berpotensi memengaruhi rekomendasi berikutnya.

Bagi algoritma media sosial, durasi tonton (watch time) adalah mata uang utama. Sekalipun pengguna menonton sambil menggelengkan kepala atau merasa jengkel, mesin tetap merekam interaksi tersebut sebagai sinyal engagement. Akibatnya, alih-alih meredam informasi keliru, tindakan bertahan menonton justru memerintahkan sistem untuk terus menyuplai konten serupa ke beranda. Pengguna yang berniat mencari klarifikasi pada akhirnya justru terjebak dalam lingkaran setan paparan hoaks berulang.

“Bukan karena malas mencari sumber valid atau mencari klarifikasi dari akun kredibel, tetapi karena terus-terusan disuguhkan konten yang sama,” kata Agus Aripin.

Ia menjelaskan, konten dengan topik serupa tidak selalu muncul dalam bentuk yang identik. Unggahan berikutnya dapat menggunakan judul berbeda, sudut penyajian lain, atau format yang berubah dari video menjadi foto.

“Yang tadinya lihat Reels, scroll selanjutnya dikasih foto, namun dengan topik yang sama,” ujarnya.

Pengulangan tersebut dapat menciptakan kesan bahwa suatu klaim semakin sering dibicarakan dan karena itu dianggap benar. Padahal, banyaknya unggahan dengan narasi serupa tidak membuktikan kebenaran informasi yang disampaikan.

Dalam konteks ini, misinformasi perlu dibedakan dari disinformasi. Misinformasi merupakan informasi keliru yang disebarkan tanpa harus disertai niat menipu, sedangkan disinformasi mengacu pada informasi palsu atau menyesatkan yang disebarkan secara sengaja.

Keduanya dapat beredar melalui media sosial dengan format dan jangkauan berbeda. Tanpa pemeriksaan sumber, pengguna berpotensi ikut membagikan informasi keliru kepada orang lain.

Agus Aripin mengingatkan bahwa pengguna yang awalnya hanya ingin mencari klarifikasi bisa terseret ke dalam arus penyebaran narasi serupa ketika terus menerima konten dengan tema yang sama.

Selain Hoaks, Ancaman Spam Judi Online Mengintai Celah Algoritma

Risiko lain yang disoroti Agus Aripin adalah promosi judi online yang muncul melalui berbagai format konten. Materi perjudian dapat dikemas dengan cara yang dirancang untuk menarik perhatian pengguna, termasuk melalui unggahan dan iklan digital.

“Lebih miris lagi jika terdapat konten judol, sebagaimana kita tahu iklan-iklan judol itu sangat marak dan dikemas dengan berbagai cara agar lolos dari peninjauan sistem,” katanya.

Menurut Agus Aripin, ketika pengguna terus berinteraksi dengan konten perjudian, materi serupa berpotensi kembali muncul. Ia juga menyoroti kemungkinan pengguna menjumpai promosi melalui konten bersponsor, selain unggahan reguler.

Meski demikian, kemunculan iklan perjudian tidak selalu membuktikan bahwa sistem rekomendasi secara langsung menyimpulkan pengguna tertarik berjudi. Distribusi iklan dan rekomendasi dapat dipengaruhi beragam sinyal serta mekanisme penargetan yang berbeda pada setiap platform.

Persoalan penyebaran promosi judol juga terlihat dalam temuan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Temuan itu memperlihatkan bahwa distribusi promosi perjudian tidak hanya berlangsung melalui rekomendasi konten. Kolom komentar dan jaringan akun otomatis juga dapat digunakan untuk menyebarkan tautan serta pesan promosi secara berulang.

Mengurai Masalah dari Akar: Antara Perilaku Pengguna dan Kebijakan Makro

Persoalan distribusi konten bermasalah di media sosial tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyalahkan kebiasaan digital individu. Ada tantangan yang jauh lebih besar di balik layar, yakni bagaimana arsitektur platform global beroperasi tanpa transparansi penuh.

Di satu sisi, dari sudut pandang mikro, kreator dan pengguna berhadapan langsung dengan manipulasi algoritma mulai dari jebakan watch time pada hoaks hingga terjangan bot komentar promosi judi online. Namun di sisi makro, pertempuran ini telah menarik perhatian regulator negara.

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah mengambil sejumlah langkah untuk menangani konten bermasalah dan mendorong tata kelola platform digital. Penghapusan konten, penanganan akun spam, dan pengawasan algoritma dijalankan sebagai upaya yang sistemik.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah mengambil sejumlah langkah nyata dalam mengawasi konten bermasalah dan mendorong tata kelola platform digital. Berdasarkan catatan penanganan, Komdigi tercatat telah menangani sebanyak 1.432 konten hoaks dan disinformasi sepanjang Januari hingga Mei 2026.

Pada Juni 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat penanganan 126.180 konten terkait judi online selama periode 1–28 Juni 2026. Di tengah maraknya penyebaran promosi judol, Komdigi juga mengungkap lonjakan spam komentar promosi judi online sebesar 128 persen pada 14–28 Juni 2026 dibandingkan periode 1–13 Juni 2026. Kementerian menemukan bahwa penyebaran spam tersebut melibatkan jaringan bot terorganisasi yang membanjiri kolom komentar akun dengan jangkauan publik tinggi.

Komdigi dan Meta menyepakati pembentukan tim bersama untuk mempercepat penanganan spam promosi judi online. Kerja sama tersebut menyasar modus komentar spam yang membanjiri akun dengan jangkauan publik tinggi.

Dalam perkembangan berikutnya, Komdigi pada 23 Oktober 2026 meminta platform digital meningkatkan transparansi penggunaan kecerdasan artifisial (AI) dan pengelolaan algoritma.

Baca juga: Awas Kecele! AI Sering 'Ngarang' Yakin, Ini Trik Jitu Tangkal Halusinasi AI

Kementerian menekankan pentingnya kejelasan mengenai bagaimana informasi dibuat, ditampilkan, dan didistribusikan. Platform juga didorong memberikan penjelasan mengenai alasan moderasi atau pembatasan konten serta menyediakan mekanisme pengaduan dan banding yang mudah diakses pengguna.

Komdigi turut menegaskan bahwa penilaian terhadap konten harus memperhatikan substansi, pola penyalahgunaan, dan bukti pelanggaran. Keberadaan akun otomatis atau perbedaan pandangan tidak dengan sendirinya menjadi bukti pelanggaran.

Cara Mengurangi Paparan Konten yang Tidak Diinginkan

Agus Aripin menyebut pengguna tidak mudah mengendalikan sistem rekomendasi secara keseluruhan. Karena itu, ia menyarankan sejumlah langkah untuk mengelola kebiasaan konsumsi konten.

“Caranya sebetulnya tidak ada, karena sangat sulit melawan algoritma,” ujarnya.

Salah satu langkah yang disarankan adalah segera melewati konten yang tidak ingin terus muncul di beranda. Pengguna juga dapat memanfaatkan fitur seperti Not Interested atau Tidak Tertarik, menyembunyikan unggahan, berhenti mengikuti akun tertentu, serta mengatur ulang rekomendasi apabila platform menyediakan fitur tersebut.

Agus Aripin juga menyarankan pengguna membersihkan riwayat tontonan dan mengelola personalisasi melalui pengaturan akun media sosial. Ketersediaan fitur berbeda-beda pada setiap platform.

Membersihkan cache aplikasi perlu dibedakan dari menghapus riwayat aktivitas akun. Cache umumnya menyimpan berkas sementara agar aplikasi berjalan lebih lancar, sehingga menghapusnya tidak otomatis menghapus profil minat yang digunakan untuk rekomendasi.

Ketika menemukan konten kekerasan, hoaks, atau unggahan yang tidak bermanfaat, pengguna dapat segera melewatinya tanpa berlama-lama menonton. Namun, tidak ada jaminan bahwa melewati konten dalam tiga detik akan langsung menghentikan rekomendasi topik tersebut.

Pengguna juga perlu memeriksa sumber informasi, membandingkan klaim dengan keterangan pihak terkait, dan mencari klarifikasi dari sumber kredibel sebelum membagikannya. Jumlah penonton, komentar, atau unggahan dengan narasi serupa tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran kebenaran.

Pada akhirnya, melawan dominasi algoritma memerlukan kombinasi antara literasi digital yang kritis dari sisi pengguna serta ketegasan regulasi dari negara. Menghentikan tontonan pada detik pertama mungkin tindakan kecil, tetapi itulah benteng pertahanan pertama agar beranda kita tak didekte oleh mesin.