Lensakabar.com, Bandung – Biaya hidup yang melonjak tinggi di pusat-pusat perkotaan kini memicu dampak berantai yang tidak hanya menekan tabungan rumah tangga, tetapi juga melumpuhkan roda ekonomi harian para pekerja informal.

Ketimpangan antara kebutuhan beban biaya hidup dan daya beli kini terpapar nyata dalam skala nasional. Data perkiraan biaya hidup bulanan memperlihatkan beban yang teramat berat bagi warga kota Jakarta menembus Rp14,88 juta per bulan, Bekasi Rp14,33 juta, Surabaya Rp13,36 juta, dan Depok Rp12,35 juta. Angka-angka ini berdiri jauh di atas Upah Minimum Provinsi (UMP) atau Kota (UMK) 2026 yang rata-rata hanya berada di kisaran Rp5,2 juta hingga Rp5,9 juta per bulan.

Kondisi tersebut membuktikan bahwa mayoritas masyarakat perkotaan sedang menahan gempuran defisit harian. Namun, dampak paling fatal dari tingginya biaya hidup ini tidak berhenti pada membengkaknya pengeluaran dapur, melainkan menjalar ke penurunan daya beli masyarakat luas.

Dampak Berantai Konsumen Berhemat, Pasar Ojol Anjlok

Di Kota Bandung, ketimpangan tersebut terasa makin nyata. Dengan perkiraan biaya hidup hemat untuk rumah tangga kecil berada di rentang Rp3 juta hingga Rp5 juta per bulan dan UMK Bandung sebesar Rp4,2 juta, masyarakat menengah-bawah terpaksa memangkas pengeluaran non-pokok.

Fenomena efisiensi anggaran oleh masyarakat ini kemudian menciptakan fenomena Double-Squeeze (jepitan ganda) bagi pengemudi ojek online (ojol) di Bandung. Para pengemudi tidak hanya bertarung melawan kenaikan harga beras dan kontrakan di rumah mereka sendiri, tetapi juga menjadi korban dari penghematan ekstrim yang dilakukan para calon penumpang mereka.

Lutfiandi (38), pengemudi ojol di kawasan Cileunyi, Kabupaten Bandung, merasakan langsung efek domino dari penurunan daya beli masyarakat ini.

"Orderan saat ini semakin sepi, mitranya makin banyak, ditambah mungkin orang-orang memang lagi hemat. Dulu pekerja kantor atau mahasiswa rajin pesan makan via aplikasi atau naik ojol. Sekarang gak tau lah bagaimana. Dampaknya ke kita, orderan anyep parah," tutur Lutfiandi saat ditemui di kawasan Cinunuk 18-10-2026 lalu.

Baca juga: Harga Gas Eropa Naik 200%, Biaya Industri Indonesia Tertekan

Kalkulasi Rincian Defisit Harian Mitra

Kombinasi antara hilangnya pesanan dari konsumen dan membengkaknya biaya operasional harian membuat matematika ekonomi para pengemudi tidak pernah menyambung.

Berdasarkan pemantauan per Oktober 2026, pendapatan kotor pengemudi ojol di Bandung yang menghabiskan waktu 10 hingga 16 jam di jalanan kini melandai di kisaran Rp70.000 hingga Rp150.000 per hari. Padahal beberapa tahun lalu, durasi 6 hingga 10 jam masih sanggup mengantongi Rp150.000 hingga Rp200.000.

Komponen Ekonomis Estimasi Angka Realitas (Bandung)
Batas Biaya Hidup Hemat Bandung Rp3.000.000 – Rp5.000.000 / bulan
Pendapatan Kotor Ojol (15 Jam Kerja) Rp90.000 / hari
Potongan BBM & Makan di Jalan -Rp55.000 / hari
Pendapatan Bersih (Take-Home Pay) Rp35.000 / hari (Rp910.000 / bulan)
Defisit Riil Dapur Ojol > Rp2.000.000 / bulan

Makin lama pengemudi mengitari Kota Bandung untuk berburu pesanan, semakin banyak BBM yang terbuang sia-sia. Pengemudi terjerat dalam siklus kerugian: biaya operasional naik untuk mengejar pasar yang justru sedang menyusut akibat tekanan ekonomi.

Harapa Baru Dengan Terbitnya Perpres Nomor 27 Tahun 2026

Guna menahan kemerosotan pendapatan mitra, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026 tentang ekosistem transportasi digital. Regulasi ini membawa poin penting lewat pernyataan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, yakni membatasi biaya pemotongan platform (app fee) maksimal 8 persen.

Langkah ini dikawal kementrian terkait seperti Kementerian UMKM dan Kementerian Komunikasi dan Digital untuk memastikan porsi hasil pengantaran orang, barang, dan makanan lebih berpihak kepada mitra.

Namun, ditinjau dari kacamata ekonomi makro, pemangkasan komisi platform menjadi 8 persen hanya menyelesaikan separuh masalah (supply side). Selama biaya hidup masyarakat umum tetap tinggi dan daya beli konsumen belum pulih (demand side), volume orderan akan tetap tipis. Pemotongan komisi platform yang kecil tidak akan banyak berdampak jika orderan yang masuk ke aplikasi tetap sepi.

Baca Juga: Dulu Blusukan, Kini Ngonten: Saat Citra Pemimpin Mengalahkan Masalah Rakyat

Siasat Bertahan, Dari Pekerjaan Sampingan hingga Pelanggan Tetap

Dalam kondisi pendapatan yang tidak menentu, pengemudi perlu mempertimbangkan strategi yang tidak hanya bergantung pada penambahan jam online.

1. Mengambil pekerjaan tambahan. Pengemudi dapat mencari pekerjaan paruh waktu sesuai keterampilan dan jadwal, seperti membantu usaha toko, bekerja di warung, atau menjalankan pekerjaan lain yang memungkinkan. Kuncinya adalah memilih pekerjaan yang tidak mengganggu waktu istirahat dan keselamatan berkendara.

2. Bekerja tetap sambil menjadi pengemudi ojol. Pegawai toko atau karyawan dengan jam kerja teratur dapat mempertimbangkan mengambil order setelah pulang kerja apabila waktu dan kondisi fisik memungkinkan. Strategi ini perlu memperhitungkan kelelahan, biaya kendaraan, serta waktu untuk keluarga.

3. Membangun pelanggan tetap. Pengemudi dapat menjajaki kebutuhan pengantaran rutin dari warung, toko, atau usaha kuliner di sekitar tempat tinggal. Kesepakatan mengenai tarif, jarak, waktu pengiriman, dan pembayaran perlu dibuat jelas. Pelaksanaannya juga harus sesuai ketentuan hukum dan aturan kemitraan yang berlaku.

4. Menghitung biaya operasional setiap hari. Pendapatan kotor sebaiknya dipisahkan dari uang yang tersedia untuk kebutuhan rumah tangga. Pengemudi perlu menyisihkan biaya bahan bakar dan cadangan perawatan sebelum menghitung penghasilan bersih.

5. Mengevaluasi jam dan lokasi kerja. Mencatat jam online, jumlah pesanan, jarak tempuh, serta hasil bersih membantu pengemudi mengetahui periode yang relatif produktif. Langkah ini lebih terukur daripada terus memperpanjang jam kerja tanpa mengetahui hasil tambahannya.

6. Menekan pengeluaran tanpa mengorbankan keselamatan. Pengeluaran yang tidak mendesak dapat dikurangi, tetapi perawatan rem, ban, oli, dan komponen keselamatan tidak seharusnya diabaikan. Penghematan yang mengabaikan kondisi kendaraan dapat menimbulkan risiko dan biaya lebih besar.

Tidak semua strategi tersebut cocok untuk setiap pengemudi. Hasilnya bergantung pada kondisi keluarga, ketersediaan pekerjaan tambahan, wilayah operasi, dan kebutuhan modal.

Bagi Lutfiandi dan ribuan pengemudi ojol di Bandung, dinamika ini menegaskan bahwa masa depan pekerjaan gig tidak lagi sekadar urusan persaingan antar-aplikasi, melainkan cermin langsung dari kesehatan daya beli masyarakat di jalanan.