Lensakabar.com, Jakarta – Lembaga survei Indonesia Political Opinion (IPO) merilis hasil evaluasi publik terhadap kinerja para menteri dan pejabat tinggi di Kabinet Merah Putih. Berdasarkan persepsi masyarakat, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sukses menduduki posisi puncak sebagai menteri dengan kinerja terbaik. Sebaliknya, posisi terbawah dihuni oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni.

Hasil tersebut dipaparkan langsung oleh Direktur Eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah, dalam rilis survei bertajuk “Refleksi dan Evaluasi Publik: Dua Tahun Kabinet Merah Putih” yang digelar secara virtual pada Sabtu (24/10/2026).

Survei berkala ini diselenggarakan sepanjang periode 12–20 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.200 responden di seluruh Indonesia. Pengambilan sampel menggunakan metode multistage random sampling dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error berkisar ±2,9 persen.

“Yang dianggap bekerja paling baik adalah Menteri Pertanian Andi Amran sebesar 33 persen, disusul Menko Infrastruktur AHY 25,2 persen, ketiga Menko Pangan Zulkifli Hasan 24,5 persen, dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia 21,8 persen,” papar Dedi dalam keterangannya.

Membedah Rapor Emas Mentan Amran

Tingginya apresiasi publik terhadap Andi Amran Sulaiman (33 persen) tidak lepas dari capaian konkret di sektor pertanian. Sebagai figur yang dipercaya memimpin Kementerian Pertanian pada dua era pemerintahan, kebijakan Amran dinilai publik menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat, yakni ketersediaan dan keterjangkauan harga pangan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras sepanjang tahun 2025 diperkirakan mencapai 34,71 juta ton, atau mengalami lonjakan signifikan sebesar 13,36 persen dibandingkan tahun 2024 yang tercatat 30,62 juta ton.

Penguatan sektor hulu ini diperkokoh oleh kemampuan pemerintah menjaga Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di gudang Bulog yang sempat menyentuh rekor 4,2 juta ton pada Juni 2025.

Penguatan sektor hulu ini diperkokoh oleh kemampuan pemerintah menjaga Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di gudang Bulog yang sempat menyentuh rekor 4,2 juta ton pada Juni 2025. Deretan indikator positif tersebut berujung pada deklarasi pencapaian swasembada pangan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Januari 2026. Portofolio capaian teknis inilah yang dikonversi publik menjadi skor kepuasan tertinggi dalam survei IPO.

Baca juga: Survei SMRC: Head-to-Head Pilpres 2029, AHY Tekuk Gibran 41,6 Persen!

Deretan Menteri Kinerja Terbaik dan Rapor Merah Kabinet

Di luar posisi empat besar, apresiasi publik terhadap kinerja para pembantu presiden disusul oleh deretan menteri sektor kebudayaan, kepemudaan, hingga keagamaan:

  • Menteri Kebudayaan Fadli Zon: 20,5 persen.
  • Menko PMK Sugiono: 16,1 persen.
  • Menpora Erick Thohir: 13,8 persen.
  • Mendagri Tito Karnavian: 12 persen.
  • Menteri Agama Nasaruddin Umar: 10,3 persen.

Sebaliknya, IPO juga memotret kelompok menteri yang berada di zona merah dengan tingkat kepuasan paling minim.

“Sementara itu, menteri yang dianggap paling buruk kinerjanya adalah Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sebesar 36,6 persen, Menteri HAM Natalius Pigai 21,8 persen, dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid 6,5 persen,” tegas Dedi.

Akar Ketidakpuasan Publik: Isu Karhutla Kemenhut Hingga Skandal Pertanahan

Tingginya angka ketidakpuasan terhadap Raja Juli Antoni (36,6 persen) berbanding lurus dengan tajamnya sorotan publik terhadap manajemen tata kelola hutan dan lingkungan. Kementerian Kehutanan menghadapi ujian berat menyusul maraknya kasus Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Data resmi rakor pemerintah mencatat luas karhutla sepanjang Januari hingga Juli 2026 menembus 202.004 hektare, di mana 57 persen di antaranya berada di kawasan hutan negara.

Kritik tajam dari Komisi IV DPR RI terkait kelambatan penanganan bencana karhutla di Riau, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Tengah yang menyisakan 639 hektare lahan dalam pemadaman darurat per Oktober 2026 menjadi faktor utama yang menekan persepsi publik terhadap Kemenhut.

Sementara itu, posisi rendah Natalius Pigai (21,8 persen) dipengaruhi oleh persepsi publik terhadap efektivitas kelembagaan di kementerian baru tersebut.

Adapun pada posisi Menteri ATR/BPN Nusron Wahid (6,5 persen), persepsi publik dipengaruhi oleh kompleksitas sengketa tanah serta dampak psikologis atas Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK pada 14 September 2026 terkait kasus dugaan suap perizinan Hak Guna Bangunan (HGB) PT Summarecon Agung Tbk di Kabupaten Bogor.

Bahlil Paling Populer, Deretan Menteri Ini Justru Terasing dari Publik

Tak hanya mengukur tingkat kepuasan kinerja, survei IPO turut menguji tingkat popularitas dan pengenalan publik (top of mind) terhadap deretan nama menteri di kabinet. Hasilnya, sosok Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melesat sebagai menteri yang paling diingat masyarakat secara spontan dengan raihan 37,5 persen.

Posisi Bahlil ditempel ketat oleh:

  • Menko Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar: 34,1 persen.
  • Menko Pangan Zulkifli Hasan: 21,7 persen.
  • Menko Infrastruktur AHY: 16,5 persen.
  • Mentan Andi Amran Sulaiman: 15,3 persen.
  • Mendagri Tito Karnavian: 13,8 persen.

Saat responden disodorkan daftar nama menteri secara langsung (assisted awareness), kepopuleran Bahlil makin tak tertandingi dengan menembus angka 70,4 persen, diikuti AHY (62,5 persen), Muhaimin Iskandar (60,9 persen), Zulkifli Hasan (48 persen), dan Andi Amran (37,2 persen).

Tingginya angka pengenalan publik terhadap Bahlil tidak lepas dari masifnya penetrasi konten digital dan percakapan di media sosial. Unggahan parodi dan meme bertajuk "MBG Mas Bahlil Ganteng" di platform TikTok serta Instagram Reels tercatat sempat menembus lebih dari 13 juta penayangan, membuat namanya melambung di luar konteks pemberitaan formal.

Di sisi lain, temuan menarik terlihat dari tingginya angka 'menteri asing' atau menteri yang nyaris tak dikenal oleh publik selama dua tahun masa pemerintahan berjalan:

  • Menteri Transmigrasi Iftitah Suryanegara: 82,5 persen.
  • Menteri PPPA Arifatul Choiry Fauzi: 79,2 persen.
  • Menteri PAN-RB Rini Widiantini: 63,4 persen.

Riset IPO ini memberikan cermin penting bagi jajaran Kabinet Merah Putih bahwa kepopuleran di media sosial dan modal politik tidak lagi cukup jika tidak diimbangi dengan hasil kerja nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Baca juga: Sentilan Bahlil: Indonesia Resmi Sunat Ekspor Gas ke Singapura